Sunday, August 6, 2017

Butuh Niat Buat Ngumpulin Niat!

           
Assalamu’alaikum J
Semester awal kuliah, aku udah rencanain semuanya. Mulai dari mata kuliah wajib apa aja yang diambil di semester berapa, sampai mata kuliah pilihan yag mau aku ambil. Semuanya Alhamdulillah lancar, hingga suatu kenyataan bernama Kerja Praktek atau Magang memporak-porandakan semuanya. Hiks, sedih banget. Waktu itu udah merasa kayak zonk banget sih nasib aku stuck di fase ini aja. Bayangin aja, buat Kerja Praktek aku habisin waktu selama …..… eh, aku bukan mau curhat tentang itu. Hehe. Intinya masa itu udah lewat. Kalau penasaran bisa baca curhatanku di post terdahulu. Maaf jadi OOT~
            Sekarang saatnya Tugas Akhir alias Skripsi atau disebut oleh beberapa orang “Skripsweet” dan sisanya yang lain menyebut “Skripshit”. Hahaha. Aku akan tetap menyebutnya Skripsi, dengan huruf “s” yang kapital *smirk*.
            Aku mulai Skripsi minggu ketiga bulan Mei, sekarang sudah Agustus dan sebentar lagi akan memasuki bulan ketiga. OMG seharusnya bulan ini aku harus progress. Setiap jurusan dari universitas biasanya memiliki metode ujian yang beda-beda. Kalo dikampusku, setelah judul di terima oleh dosen, tiga bulan berikutnya wajib mengikuti progress. Nah progress ini isinya ya presentasi program (karena aku jurusan informatika, aku wajib membuat “sesuatu”), dan sesuai namanya, presentasi ini menjelaskan sudah sampai mana Tugas Akhir yang kamu kerjakan, sudah bisa apa aja programnya. Setelah itu tiga bulan berikutnya Ujian Pendadaran sebagai final-nya. Iya… didadar sama pengujinya, hehe. Semoga aku nggak sampai didadar betulan deh. Takutttt..
            Sampai sekarang aku belum mendaftar progress *crying*.  Ternyata ngerjain Skripsi nggak semudah memahami dari judul Skripsi itu sendiri. Butuh niat, sedangkan untuk niat itu sendiri membutuhkan niat, looping begitu seterusnya sampai Negara api menyerang dhuaarrrr..
            Dulu sempet mikir kalau ada kakak tingkat yang Skripsinya lama, tuh senior kok Skripsinya lama sih, pasti banyak main deh. Sekarang, rasanya pengen asdfghjkl *teriak-teriak dalam bantal*. Ngumpulin niat buat mikir, buat nulis, buat ngoding, buat nyelesein program rasanya susah sekali. Bukan karena banyak main atau nongkrong, karena buat ngerjain Skripsi itu butuh mood tersendiri. Mood yang spesial~
            Nah untuk membangkitkan mood, aku coba mulai dengan nulis curhat buat dipost di blog. Siapa tau kan ya?
            Doain aku, semoga lekas selesai Skripsi ini dan bisa ikutan banyak give away lagi dari blog temen-temen. Terima kasih. Wassalamu’alaikum J

Thursday, August 3, 2017

Berjuta Manfaat Menulis

picture by Google

Assalamualaikum semuaa…
Sudah lama sekali enggak nulis –read: ngetik, entah nulis diary, blog, cerita fiksi, dan lain-lain. Kalau mau nulis lagi jadi kikuk. Sepertinya harus diniatkan lagi untuk rajin menulis. Padahal kalau dipikir, aku punya banyak waktu luang. Untuk apa waktu luangku? Ah.. gadget memang membuat malas melakukan aktivitas yang lebih berguna. Harus mulai jauh-jauh dengan gadget supaya waktu dapat digunakan semaksimal mungkin. Meskipun menulis di blog kayak gini terkesan sepele, tapi ada beberapa manfaatnya loh yang udah aku rasain, antara lain:
1.        Berlatih mengungkapkan isi hati
Aku pribadi adalah orang yang tertutup, maka menulis jadi salah satu alternatif mengungkap isi hati. Dengan mengungkapkan isi hati, biasanya hati menjadi lebih ringan.
2.        Mencegah kepikunan
Menulis erat kaitannya dengan kerja otak. Agar otak tetap berfikir positif, diantaranya dengan membiasakan menulis, mengungkapkan apa yang terpikirkan, dengan kebiasan inilah otak terus bekerja, jika terus demikian maka otak tidak akan pikun nantinya, karena ibarat pedang, semakin sering diasah dan digunakan, ia semakin baik dan tajam.
3.        Menjadi diri sendiri, bebas mengekspresikan diri
Seperti bermimpi, saat menulis kita bebas menyelam dalam lautan khayalan kita. Bebas menulis apa saja yang ada dihati dan pikiran kita. Asal tidak merugikan diri dan orang lain lho ya.
4.        Berlatih untuk berkarya
Terbiasa menulis akan membawamu menjadi hobi, ketika kamu sudah pandai menulis, kamu bisa membuat cerita pendek atau novel nantinya. Ini adalah salah satu keinginanku yang belum terwujud dari dulu: membuat novel.
5.        Menulis adalah media belajar
Menulis adalah media belajar, dengan menulis akan mendorong dan menuntut kita menyerap, menggali dan mengumpulkan informsi sebanyak-banyaknya untuk menopang tema yang akan ditulis, baik informasi yang bersifat teoritis atau berupa fakta-fakta yang terjadi.
6.        Terhindar dari penyakit psikis
Seperti yang dijelaskan tadi, mengungkapkan isi hati dan pikiran membuat kita lega, rasanya beban sedikit terkurangi karena bisa meluapkan pemikiran meskipun dalam tulisan.
7.        Menulis akan membuat hidup produktif
Dengan menulis wawasan terus bertambah, setiap detik-detik terisi sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan orang lain, langkah dan akivitasnya tak kan terbuang ke persoalan yang tidak ada manfaatnya, karena tersibukkan oleh beragam informasi, fakta, wawasan, ilmu, pengetahuan, penelitian, pengamatan, observasi, survai yang harus tergali dan terkumpulkan sebagai referensi bahan yang akan ditulis.
8.        Menulis akan membentuk pribadi yang bijak dan santun
Sedikit banyak pasti akan tertarik dan terpengaruh oleh gaya bahasa dan gaya penyampaian seseorang, terlebih setiap penulis pasti beharap tulisannya menarik, enak dibaca, tidak membosankan, bahasanya renyah dan hidup, mengenai sasaran dan tersampaikan maksud apa yang ia tuliskan.
9.        Menulis akan menghasilkan ide-ide baru
Ide-ide baru hanya terhasilkan dari mereka para pemikir yang aktif, terus belajar dan bekerja keras mengembangkan kemampuan berfikirnya. dan dengan jalan menulis inilah ide-ide anyar itu akan terus bermunculan dan tersebarkan.

Nah, itu baru beberapa manfaat menulis yang secara sadar aku rasakan. Sepertinya banyak manfaat yang secara nggak sadar aku dapatkan. Karena gengs, percaya deh bahwa menulis itu punya buanyaaaaaakkk sekali manfaatnya. Cuma kita jarang menyadarinya aja.

Sekian dulu ya, jangan bosan untuk mampir di sharing sederhana ala ChiChi. Jangan lupa juga untuk share pengalaman kalian, boleh lo tulis link url blog kalian supaya aku dan teman-teman lain juga bisa membaca. Selain menulis, membaca juga penting kan??

Wassalamu’alaikum sobat J

Friday, November 18, 2016

Review Corner: Egg White by Mistine


Penggunaan putih telur untuk masker wajah secara alami banyak manfaatnya loh. Zat-zat yang terkandung di dalamnya mampu mengatasi berbagai masalah pada wajah mulai dari komedo, jerawat, mengecilkan pori-pori kulit, membuat kulit wajah lebih kencang dan awet muda, mengatasi kulit kering, berminyak hingga mencerahkan wajah. Cara bikinnya gampang, pisahkan putih telur dari kuning telur. Lalu oleskan ke wajah menggunakan kuas masker. Nah, kalau mau lebih bernutrisi, putih telur bisa dicampur dengan madu, atau lemon. Saat pemakaian memang baunya amis, dan kalau udah kering rasanya muka kaku kayak ketarik gitu. Sensasinya bikin muka kenceng. Setelah kira-kira 15 menit, basuh dengan air mengalir terus keringkan muka kamu dengan tisu atau handuk.


Lalu karena berhenti pake yang alami secara langsung karena alasan praktis dan efisien, sebagai gantinya aku beli masker putih telur dari Mistine. Masker ini bentuknya peel off, agak kental berwarna putih agak kemilau gitu, teksturnya licin, ngga terlalu encer tapi juga nggak creamy, dan lengket. Cara pakainya juga gampang, tinggal dioles ke muka dengan kuas masker. Catatan, muka kamu harus bersih dari make up dan skin care yah. Makenya jangan terlalu tipis, nanti dikleteknya susah, jangan juga terlalu tebal karena keringnya bisa lama. Biasanya aku pake tipis dan dibagian tertentu agak tebal, misalnya dibagian hidung, pipi, dan dagu. Bagian dimana banyak komedonya. 

Wadahnya berbetuk tube, aku lebih suka naruhnya terbalik kalau isinya masih banyak, karena kalau aku taruh sesuai bentuknya –tutup menghadap kebawah-, terkadang saat dibuka isi produk gampang tumpah gitu. Oh.. bukan tumpah, hanya lepet-lepet gitu. But it’s still ok for me.  


Mau baca tulisan di produknya nggak bisa, karena tulisannya pake huruf dan Bahasa Thailand aku ngga ngerti, hikz. Lalu aku search diinternet, dan nggak ada ­–mungkin belum- website resminya. Maka aku cari-cari info dari distributornya. Produk ini mengklaim dapat:
  • Mengangkat sel kulit mati pada wajah
  • Menghilangkan jerawat
  • Mengatasi minyak berlebih pada wajah
  • Menghaluskan dan mencerahkan kulit
  • Mengecilkan pori-pori pada wajah
Saat pemakaian, sensasinya hampir sama dengan memakai masker alami putih telur, saat mau mengering muka jadi ketarik dan kenceng gitu. Bau amisnya hilang dan diganti dengan bau yang.. ehm.. sulit dijelaskan. Bukan wangi yang menyengat, bukan wangi bunga atau buah ataupun bau amisnya telur. So far, baunya nggak mengganggu sama sekali. Setelah masker benar-benar kering, kletek maskernya dari bawah keatas. Agak sakit sih makanya harus pelan-pelan. Nah setelah itu kamu bisa lihat dibagian masker yang nempel kulit kamu banyak kulit mati dan komedo yang ikut ketarik. Melihat banyak kotoran itu, aku bahagia sekaligus merasa iyuhh. Muka aku kotornya kayak begitu. Setelah itu cuci muka kamu, atau bisa dikompres dengan es batu untuk menenangkan kulit muka.

Nggak semua klaim produk aku rasain sih, aku nggak meraskan produksi minyak berlebih pada wajah berkurang dan pori-pori pada wajah pun ngga terlalu terlihat mengecil, yah karena aku punya pori-pori super besar sih, jadi kelihatan. Tapi untuk komedo, aku acungi jempol karena bikin keranjingan banget pengen make supaya komedo hilang. Aku make masker Mistine ini seminggu sekali.  

Untuk mencari sumber informasi produk, sayangnya masih sangat sulit. Karena belum ada situs resmi, hasil pencarian hanya berasal dari distributor aja. Selain itu hanya review produk. Entahlah aku mencari no seri bpom pun belum ada –untuk saat ini. Tapi untuk aku pribadi, aku menyukai produk ini. J

Jadi untuk produk ini aku kasih nilai 8/10.
Worth to purchase, and by the way this is my second bottle ;)

Disclaimer:
Hasil bisa berbeda karena faktor jenis dan masalah kulit masing-masing.
Hati-hati dengan fake product. 

Monday, November 14, 2016

Mukaku #TeamMinyak


Apa jenis kulitmu? Jenis kulit yang kering, normal, berminyak atau kombinasi?

Bingung nggak sih nentuin jenis kulit? Selain dengan cara periksa ke dokter kulit ataupun kecantikan, untuk tahu jenis kulit banyak caranya kok. Googling aja, pasti banyak hasil yang keluar dari pencarian, hehe. Dan dari beberapa cara yang aku baca, aku lebih prefer cara yang satu ini.

Saat bangun tidur, berkacalah. Lihatlah betapa banyak hal yang harus kamu pertanggung jawabkan. Lihatlah orang tuamu.. Ehhh… eh… Eitss.. ini bukan postingan tentang itu. Salah fokus. Hahaha. Maap eaa.

Oke yang ini serius. Saat kamu tidur, jagan pake AC ya.. Nah, saat bangun tidur, berkacalah. Lihat muka kamu. Perhatikan minyak dan pori-pori kamu. Apakah muka kamu minyakan, atau kering, atau kombinasi dari keduanya? Kalau mukamu minyakan, biasanya bagian T-zone bakalan banjir minyak dan ukuran pori-pori kamu besar. Kalau mukamu kering, biasanya bangun tidur ya nggak berminyak dan pori-pori cenderung kecil. Kalu kombinasi, biasanya T-zone banjir minyak, tapi daerah lainnya kering kerontang. Nah, gampang kan.

Kalau aku habis bangun tidur, biasanya T-zone aku minyakan, buangetttt. T-zone itu adalah area hidung, dan dahi. Naahh.. didaerah tulang pipi kebelakang, kering. Tapi jarang juga sih. Kalau T-zone lagi banyak-banyaknya produksi minyak, biasanya aku bangun, terus ngaca muka aku terlihat kayak abis disiram minyak goreng, hahaha. Kalo kata ibuku mah, bisa diperes buat goreng ikan, haha -,-  Ukuran pori-poriku super besar. So, aku memutuskan bahwa mukaku tipe yang yang berminyak.

Hingga suatu saat aku kedokter. Kata dokter kulit dan kecantikan, aku sih tipe kulit kering. Tapi menurutku pribadi, aku tipe kulit yang sangat berminyak, bangett. Nah, kata si dokter, kelebihan minyak di wajahku itu karena si kulit muka “merasa” kalo kulit aku kering, jadi perlu “dikasih” minyak. Itu yang menyebabkan kulit aku jadi minyakan. Tapi sepertinya, aku ngga bisa terima gitu. Soalnya aku ngga pernah sekalipun mengalami kulit kering. Masak kulitku salah berulang kali, dikira mukaku kekeringan mulu. Atau jangan-jangan, kulit mukaku “berpikir” kalau mukaku kering padahal udah minyakan? Level yang sebenernya sudah cukup, dipikirnya level kering? Jadi level minyakan itu level normalku? Laaaaahhhh… dhuaaaarrr…

Kalau aku manut sama dokter, bahwa tipe kulit mukaku kering, terus pake make up untuk muka kering, muka aku bakalan semakin memproduksi banyak minyak. Karena tipe make up untuk kulit kering, biasanya mengandung oil dan cenderung untuk “memerintah” kulit untuk memproduksi minyak supaya muka tetap lembab. Dan kalau begitu, apa jadinya mukaku? Yang ada muka aku jadi makin kinclong minyakan, mungkin bisa diperas kali ya, ahahaha.

Oke, untuk menghindari persediaan minyak dimuka agar tidak cepat habis, maka sebaiknya aku mulai mengontrol supaya enggak minyak berlebih dimuka. Jadi sekarang, aku banyak menggunakan make up untuk muka berminyak super.

Tipe kulit berminyak itu ada suka dukanya. Sukanya adalah, muka akan lebih awet muda, katanya sih hahaha. Tapi duka-dukanya (“duka” nya lebih dari satu, hikz), muka berminyak menyebabkan debu gampang nempel dan biasanya, muka berminyak cenderung mudah berjerawat, yahh..  berminyak dan berjerawat itu satu paket sepertinya, kayak mukaku, berminyak, berjerawat dan sensitive, mantaapppp. Muka minyakan itu kalo pake make up gampang luntur kena minyak. Harus pinter-pinter milih make up dan skin care supaya mukanya nggak berlebihan produksi minyaknya.

Nah, muka kalian masuk kedalam #teamnormal , #teamminyak , #teamkering atau #teamkombinasi?

Friday, November 4, 2016

Fake Smile


Gimana sih rasanya keseringan pasang “fake smile”? Capek juga kan. Tapi apa boleh buat lagi. Yang namanya masalah nggak cuma aku aja yang punya, orang lain pun. Aku nggak boleh merasa bahwa masalah yang aku hadapi sekarang ini adalah masalah yang paling berat dialami manusia kan?

Sebenarnya sering “fake smile” juga ada baik buruknya. Saling berlawanan. Baiknya adalah, orang disekitarku nggak merasa khawatir, buruknya adalah aku bohong sama mereka. Baiknya yang lain, mensugesti diri sendiri untuk lebih positif, buruknya, aku bohong sama diriku sendiri. Senyum juga ibadah sih, asal nggak kelewatan aja yah, senyumnya. Haha. Dan yang terpenting, tersenyum, meskipun itu pura-pura, terkadang memberikan sedikit rasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk naik ke level ke jenjang “manusia kuat”. Yah, semoga kita semua selalu diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Tapi capek. Apalagi untuk saat seperti ini. Kondisi sekarang ini. Rasanya banyak orang yang makin lama menjauhiku. Bukan karena mereka membenci atau nggak menyukaiku, tapi lebih kepada masing-masing dari kami telah memiliki kesibukan masing-masing, kehidpan masing-masing. Yah.. semoga apa yang aku ungkapkan barusan benar yah, hehe. Karena kesibukan itulah, sharing atau curhat hal-hal ringan hingga berat pun jadi jarang banget. Padahal sharing itu bisa ngurangin beban pikiran, meski sedikit. Ah, aku rindu orang-orang terdekatku. Banyak sekali hal yang ingin disampaikan rasanya, tapi semakin jarangnya bertemu, semakin sulit juga rasanya untuk kemabali dekat dan rekat seperti awal kita sering bertemu.

Menurut kalian gimana tentang “fake smile”? Setuju nggak sama aku? Dan kalian... pastinya pernah dong “fake smile”?

Tuesday, September 27, 2016

Tolong Jaga Dia


Ada yang pernah mengatakan, kesulitan tidur malam hari disebabkan oleh rasa kesepian. Entahlah itu benar atau salah, yang jelas, sekarang aku mulai kesulitan untuk tidur. Kesepian.. sendiri.. kesedihan.. kata-kata yang saling berkaitan. Ironis.

Mataku hanya tertuju pada satu titik didepanku, hanya satu titik fokus. Pada jam dinding yang terus berdetik menuju menit. Hingga jam, aku sukar untuk tidur. Pikiranku memutar sebuah memori yang terus menerus diulangnya hingga detik ini. Memori yang tak ingin aku lupakan, tapi ingin aku istirahatkan sejenak. Memori ini.. Membuatku terus terpaku pada jam dinding itu, memutar setiap detiknya dengan apa yang telah terjadi, dan tanpa sadar membuatku meneteskan air mata. Tak terbendung. Dan selalu aku tanyakan pada diriku sendiri, inikah aku?

Memori yang masih terpatri jelas, detik demi detik yang telah aku lewati saat itu. Sendiri melawan derasnya rasa bersalah. Sakit. Perih sekali rasanya. Tuhan.. aku berdoa. Dan Dia mendengar doaku, Dia mengabulkan doaku. Dia bersamaku. Dia tidak tidur. Dia terjaga bersamaku menemaniku. Aku malu pada-Nya. Aku benar-benar tak tahu diri.

Aku telah berjanji. Perjanjian antara aku, Tuhan, dan dia. Aku berjanji tak akan melakukan kesalahan yang sama, aku berjanji untuk mengingatnya, meski dalam diam, meski dalam doa. Dan Tuhan, tolong jaga dia untukku, meski aku rasa, dia benar-benar membenciku meski aku telah meminta maaf padanya, tapi tak apa. Aku akan baik-baik saja. Semoga. Tolong jaga dia Tuhan, untukku...