Yang Bocor Pampersnya, yang Tumpah Emosinya
Sahur hari ketujuh. Seperti biasa, aku bangun pukul 02.30 WIB untuk menyiapkan sahur untuk orang-orang rumah. Membangunkan suami yang tidur beda kamar, pindah ke kamarku untuk menjaga anak yang sedang tidur pulas.
Setengah jam di dapur, tiba-tiba perutku mulas. Aku ke kamar mandi sebentar. Baru saja keluar, langsung diteriaki dengan muka masam. Katanya dia manggil-manggil aku, tapi aku tidak menjawab dan dicari tidak ada. Seolah-olah aku sengaja menghilang.
Kupikir anak kami kenapa-kenapa. Ternyata karena pampers bocor, tembus ke kasur. Dan yang bikin dadaku sesak, dia lebih sibuk mencariku ke sana kemari daripada langsung membersihkan kasur yang kena pipis. Lalu marah-marah karena katanya kelamaan mencariku, jadi pipisnya merambah ke mana-mana. Gimana, gimana? Kalau dari awal langsung dibereskan, selesai. Kenapa harus ribet mencariku dulu? Memangnya mengurus kasur basah tidak bisa sendiri? Toh pada akhirnya, setelah bertemu, tetap saja dia yang membersihkan kasur dan aku yang mengurus anak, mengganti pampers dan pakaiannya yang sudah basah. Jadi sebenarnya marahnya untuk apa?
Untung semua urusan dapur sudah hampir selesai. Orang-orang rumah tetap bisa sahur dengan tenang. Sementara aku? Bisa sahur atau tidak, sepertinya bukan urusan siapa-siapa. Anakku minta makan jatah sahurku, aku berikan tanpa pikir panjang.
Insyaallah menahan lapar itu mudah. Jauh lebih mudah daripada menahan emosi yang rasanya seperti diremas-remas setiap pagi.

