Sumpit dan Mata Polosnya
Sore itu begitu damai. Tidak ada firasat apa pun, tidak ada tanda bahwa sebentar lagi jantung saya akan berdegup lebih kencang dari biasanya.
Anak saya menemukan sepasang sumpit-sumpit yang sebelumnya memang sering ia gunakan untuk bermain drum-drum-an, memukul-mukul meja atau bantal, terinspirasi dari barongsai. Belakangan ini, ia memang sedang into banget dengan barongsai. Gerakannya, lompatannya, iramanya, semua ia tirukan dengan penuh semangat. Di tangan kanan dan kirinya, masing-masing tergenggam sumpit. Ia berlari, melompat, bergerak ke sana kemari, memperagakan barongsai versinya sendiri. Saya ada di ruangan yang sama. Melihat, tapi tidak benar-benar menyadari bahwa ada bahaya kecil yang sedang mengintai. Hingga satu momen itu terjadi. Saat ia melompat-lompat di atas bantal, tubuhnya terjatuh ke depan. Dan ya, mata kirinya kecolok sumpit.
Awalnya saya masih bersantai, sampai suara tangisnya pecah. Tangisan yang berbeda. Tangisan kesakitan. Seketika saya kaget dan berlari mendekat. Saat itu saya belum sepenuhnya paham apa yang terjadi, sampai saya melihat tubuhnya tertelungkup di atas bantal, dua sumpit tergeletak di sampingnya, dan kedua tangannya menutup mata kiri sambil menangis meraung-raung. Ah… sepertinya saya tahu kenapa.
Saya pangku anak saya, mencoba menenangkannya sambil di dalam hati saya sendiri berusaha menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Ia menangis sambil memejamkan mata erat-erat, mengernyit, menahan perih. Perlahan saya minta ia bercerita. Dengan mata masih terpejam, ia berkata bahwa ia jatuh dan matanya terkena sumpit.
Deg. Rasa waswas mulai menjalar.
Saya minta ia membuka mata perlahan. Sedikit saja. Ia menurut. Aman. Tidak ada yang aneh. Saya menghela napas, dan ia mulai tenang. Namun sejurus kemudian, saat ia melirik ke kiri, saya langsung membeku. Tanpa berkata apa-apa, saya menatap suami saya. Menahan tangis. Jantung saya rasanya jatuh.
“Ada apa?” tanya suami saya.
Saya hanya bisa berkata pelan, “Sedikit… bagian dalam matanya merah, seperti tertusuk.”
Suami saya kaget. Tanpa banyak bicara, kami langsung berlari ke klinik terdekat. Ini adalah salah satu hal yang paling saya takuti. Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Mata adalah jendela dunia. Pernah suatu ketika, mata saya sendiri tiba-tiba sakit, lalu perlahan menjadi buram. Semakin buram, hingga akhirnya gelap gulita, tidak bisa melihat apa pun. Di titik itu, rasa takutnya luar biasa. Bagaimana kalau buta? Setelah berdoa, pasrah, dan beristirahat, perlahan penglihatan saya kembali terang. Kejadian itu terjadi dalam satu hari, bahkan belum sempat ke dokter. Saya selalu merasa, mungkin itu peringatan untuk lebih bersyukur, untuk ingat beristirahat, untuk menjaga apa yang dilihat dan dijaga oleh mata.
Kembali ke sore itu.
Di klinik, kami menceritakan semuanya pada dokter jaga. Beliau memeriksa dengan teliti, lalu berkata dengan tenang, “Insyaallah aman. Tidak melukai kornea.” Anak saya diberi obat minum dan tetes mata untuk mengobati serta meringankan nyeri. Saya mengangguk, tapi hati saya belum sepenuhnya tenang.
Setiap kali melihat matanya yang masih merah, perasaan saya campur aduk, merinding, bersalah, ketakutan. Ada rasa menyesal karena merasa kurang sigap. Ada rasa takut membayangkan kemungkinan yang lebih buruk. Dan ada rasa sadar, bahwa sebagai orang tua, kita tidak pernah benar-benar siap menghadapi kejadian seperti ini.
Sore itu mengajarkan saya satu hal yang sangat dalam: betapa cepatnya keadaan bisa berubah, dan betapa rapuhnya rasa aman yang sering kita anggap biasa.