Aku Lelah Sekali, dan Enggan untuk Bangun Tidur
Ada saat-saat ketika aku bertanya kepada diriku sendiri,
kalau aku berhenti bergerak, siapa yang akan mengurus anakku?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa malam ini rasanya begitu berat.
Sudah sejak kemarin anakku sakit. Batuknya terdengar keras dan dalam, sampai beberapa kali membuatnya muntah. Kemarin malam, salah satu muntahan itu terjadi tepat di dalam pelukanku. Aku memeluknya, membersihkannya, mengganti bajunya. Tanganku bergerak seperti biasa, seperti seorang ibu yang tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi di dalam kepala, rasanya aku hanya ingin berhenti.
Aku lelah. Sangat lelah.
Malam itu sebenarnya suamiku tidak sedang bekerja. Kami tidur di kamar yang berbeda. Dari kamar anakku terdengar suara tawa dan obrolannya bersama teman-teman bermain game.Aku mendengar tawa itu. Sementara dari tempatku, yang terdengar adalah batuk anak kami. Batuk yang begitu keras sampai membuatnya muntah.
Aku kecewa.
Bukan semata-mata karena suamiku bermain game. Bukan karena dia bersenang-senang. Tetapi karena dalam keadaan seperti itu, aku berharap dia bisa mendengar. Aku berharap dia akan datang melihat anaknya tanpa harus menunggu aku meminta. Mungkin aku hanya ingin merasa bahwa aku tidak sendirian.
Ketika anakku muntah dalam pelukanku, aku pergi ke kamar sebelah untuk mengambil baju ganti. Suamiku bertanya, “Ada apa?”. Aku menjawab, “Anak muntah.”. Dia bertanya lagi. Aku menjawab lagi, kali ini lebih keras karena ternyata jawabanku yang pertama tidak terdengar.
Lalu dia marah.
Katanya, kenapa aku tidak bisa bicara baik-baik. Saat itu aku merasa semakin sesak.Aku sudah menjawab. Aku hanya sedang lelah karena harus mengulang jawaban ketika anak kami baru saja muntah. Akhirnya aku berkata, mungkin dengan suara yang lebih tinggi,
“Aku sudah jawab baik-baik. Kamu yang nggak dengar. Sama seperti anakmu yang batuk-batuk sangat keras sampai muntah pun kamu nggak dengar.”
Setelah itu dia diam. Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya saat itu. Mungkin dia tersinggung. Mungkin dia marah. Mungkin dia akhirnya berpikir. Aku juga tidak tahu.Yang aku tahu, kalimat itu keluar karena aku sudah terlalu penuh. Karena sebenarnya aku tidak sedang marah tentang satu kejadian malam itu saja.
Aku sedang lelah dengan perasaan harus selalu menjadi orang yang pertama mendengar. Pertama kali menyadari anak sakit. Pertama kali bangun. Pertama kali bergerak. Pertama kali panik. Pertama kali mencari solusi. Dan entah mengapa, ketika aku mulai kehabisan tenaga, aku malah merasa harus menjelaskan lagi kenapa aku kehabisan tenaga.
Hari ini aku kemudian menyadari sesuatu yang membuatku semakin sedih.
Ketika siang aku bekerja, suamiku tidur. Ketika malam suamiku bekerja, aku masih bekerja, bukan pekerjaan kantorku, tetapi pekerjaan menjaga anak. Dan ketika akhirnya ada malam di mana suamiku tidak bekerja, anak kami sakit. Aku tetap berjaga. Lalu kapan aku istirahat? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Kapan?
Aku bahkan tidak tahu lagi jawabannya. Sejak kemarin aku sudah sangat lelah. Sampai akhirnya aku tertidur karena tubuhku memang sudah tidak sanggup lagi bertahan. Pagi harinya aku enggan bangun.
Aku tidak ingin melakukan apa-apa.
Aku hanya ingin tidur.
Aku ingin beristirahat.
Aku ingin untuk sekali saja tidak menjadi orang yang harus segera bergerak ketika sesuatu terjadi. Tetapi kemudian muncul pikiran lain. Kalau aku tidak bergerak, bagaimana dengan anakku? Dan mungkin inilah bagian paling melelahkan dari menjadi seorang ibu.
Bahkan ketika tubuh kita meminta berhenti, hati kita masih merasa tidak punya hak untuk berhenti. Anakku tetap harus makan. Tetap harus minum. Tetap harus dimandikan. Tetap harus dipantau. Tetap harus dipeluk ketika batuknya membuatnya takut. Tetap harus ada seseorang yang mendengarkan napasnya di malam hari. Dan orang itu hampir selalu aku.
Kadang aku bertanya-tanya, apa bedanya jika aku sendiri?
Bukankah sekarang pun rasanya seperti aku sendirian? Aku tahu pertanyaan itu mungkin tidak sepenuhnya adil. Aku tahu suamiku mungkin juga punya lelahnya sendiri. Aku tahu mungkin ada banyak hal yang tidak kulihat dari sisinya. Tetapi malam ini aku tidak sedang mencoba menjadi adil.
Aku hanya sedang mencoba jujur. Aku lelah. Aku lelah mengurus semuanya sendiri, padahal kami berdua. Aku lelah harus meminta sesuatu yang sebenarnya ingin sekali kuberikan tanpa diminta: kehadiran.
Aku tidak membutuhkan suami yang sempurna. Aku hanya ingin ketika anak kami sakit, dia juga ikut khawatir. Ketika anak kami batuk, dia juga menoleh. Ketika anak kami muntah, dia juga bergerak. Ketika aku sudah terlalu lelah, dia bisa berkata, “Sudah. Kamu istirahat. Aku yang jaga.”
Mungkin sesederhana itu.
Mungkin yang sebenarnya kucari bukan bantuan. Aku hanya ingin merasa bahwa kami benar-benar menjalani ini bersama.
Malam ini aku menulis semuanya bukan karena aku ingin menyimpan kemarahan. Aku menulis karena aku takut suatu hari nanti aku sendiri lupa. Lupa bagaimana rasanya menjadi aku di masa ini. Lupa berapa kali aku menahan kantuk. Lupa berapa kali aku bangun ketika anakku batuk. Lupa bagaimana rasanya memeluk tubuh kecil yang baru saja muntah sementara tubuhku sendiri sudah meminta untuk berbaring. Lupa bahwa pernah ada malam ketika aku begitu lelah sampai tidak ingin bangun dari tempat tidur, tetapi tetap bangun karena seorang anak kecil membutuhkanku.
Mungkin suatu hari nanti aku akan membaca diary ini kembali. Entah aku akan berada di mana. Entah kehidupan kami akan seperti apa. Entah aku masih akan merasa seperti malam ini atau sudah menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang sekarang memenuhi kepalaku. Tetapi setidaknya, tulisan ini akan menjadi saksi. Bahwa pernah ada seorang ibu yang sangat lelah.
Yang ingin sekali beristirahat, tetapi tetap bangun.
Yang ingin berhenti bergerak, tetapi tetap bergerak.
Yang merasa sendirian, tetapi tetap bertahan.
Dan kalau suatu hari nanti aku mempertanyakan apakah aku pernah benar-benar berjuang untuk keluargaku, aku ingin diary ini mengingatkanku bahwa aku pernah.
Aku pernah sangat lelah.
Aku pernah ingin berhenti.
Tetapi aku tetap bertahan.
Untuk anakku.
Dan mungkin, untuk diriku sendiri juga.

