Assessment yang Selalu Menamparku
Hari ini, lagi-lagi aku merasa kecewa terhadap diriku sendiri melalui hasil assessment kuarter ini.
Sebetulnya, setiap kuarter divisi kami mengadakan assessment tentang product knowledge. Bisa berupa project based technical maupun non-technical, bisa juga berupa essay ataupun pilihan ganda. Dalam satu divisi ini terdapat beberapa role, engineer dan non engineer. Aku masuk kedalam role engineer.
Pengumuman hasil assessment dari tim divisi keluar hari ini. Sebagai seorang engineer, aku diharapkan memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan role staff umum atau non-engineer. Ekspektasinya jelas, aku seharusnya bisa berada di depan ketika ada issue dari klien dan lebih memahami seluk beluk produk hingga segi teknisnya. Namun kenyataannya, bahkan untuk masuk lima besar pun aku tidak mampu.
Rasanya seperti ditampar. Bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk orang-orang yang selama ini menaruh harapan lebih padaku. Ada rasa malu, ada rasa bersalah, dan yang paling berat… ada rasa tidak cukup. Hal seperti ini bukan hanya soal ranking. Ini juga tentang penilaian tahunan, tentang bagaimana perkembangan diriku dilihat, tentang masa depan yang perlahan terasa makin tidak pasti.
Pekerjaanku menuntutku untuk terus belajar, terus berkembang. Sebenarnya, hampir semua pekerjaan juga seperti itu. Kalau tidak bergerak maju, kita akan tertinggal. Tapi di bidang teknologi, semuanya terasa jauh lebih cepat. Perubahan datang tanpa jeda. Kompetisi tidak pernah berhenti. Dan aku… mulai merasa tertinggal.
Seolah hidup ini hanya dijalani untuk tidak tenggelam, bukan untuk benar-benar berenang ke tujuan. Jika terus seperti ini, aku tahu jawabannya: aku akan tergantikan. Dan pikiran itu menakutkan.
Aku juga mulai bertanya, apa yang sebenarnya bisa kulakukan untuk memperbaiki diriku? Bagaimana caranya membagi peran dalam hidup ini, di satu sisi menjadi seseorang yang hadir untuk orang lain, namun di sisi lain tetap mampu berdiri kuat sebagai penopang utama?


