Akhirnya Lulus Ngenyot Jempol!
Entah sejak kapan, anak saya punya kebiasaan mengisap jempol kiri alias "ngenyot". Rasanya kebiasaan itu sudah menjadi bagian dari dirinya sejak masih sangat kecil. Saat mengantuk, sedang santai, atau mencari rasa nyaman, jempol kiri hampir selalu menemukan jalannya sendiri menuju mulutnya.
Sebagai orang tua, tentu kami sering mendengar berbagai cerita tentang kebiasaan mengisap jempol. Ada yang bilang harus segera dihentikan karena bisa memengaruhi pertumbuhan rahang dan susunan gigi. Ada juga yang mengingatkan bahwa kebiasaan ini bisa membuat kuku jempol rusak, kulit jempol menjadi kusut, bahkan terbawa sampai dewasa jika tidak segera diatasi. Memang ada penelitian yang menunjukkan bahwa kebiasaan thumb sucking yang berlangsung terlalu lama dapat berhubungan dengan perubahan struktur gigi dan rahang pada sebagian anak.
Namun di sisi lain, saya juga menemukan informasi bahwa mengisap merupakan salah satu refleks dan aktivitas oromotor paling awal yang dimiliki manusia. Bahkan sejak dalam kandungan, bayi sudah mulai mengembangkan kemampuan mengisap sebagai bagian dari perkembangan oral motor mereka. Aktivitas ini juga sering berfungsi sebagai cara anak menenangkan diri dan mencari rasa aman.
Jadilah kami sempat berada di persimpangan. Haruskah buru-buru menghentikannya, atau membiarkannya hilang dengan sendirinya?
Kalau saya pribadi, mungkin termasuk tipe orang tua yang cukup santai. Selama belum mengganggu kesehatan atau aktivitas sehari-hari, saya memilih tidak terlalu panik. Meski begitu, saya tetap sering mengingatkan bahwa mengisap jempol adalah kebiasaan yang suatu saat perlu ditinggalkan. Pelan-pelan, tanpa marah-marah. Saya juga sempat mencari berbagai cara untuk membantu menghilangkan kebiasaan itu. Ada yang menyarankan mengoleskan brotowali atau pare supaya terasa pahit. Ada juga produk khusus yang dijual secara online untuk dioleskan ke jempol agar anak enggan mengisapnya.
Lalu suatu hari, caretaker di daycare memberikan ide yang jauh lebih sederhana.
"Coba pakai plester saja."
Katanya, ada anak lain yang berhasil berhenti mengisap jempol dengan cara itu. Akhirnya kami mencobanya. Kami membuat cerita kecil bahwa jempolnya sedang sakit sehingga harus diplester agar cepat sembuh. Setiap hari jempol itu diplester. Plesternya rutin diganti, tidak terlalu kencang, dan dibuat senyaman mungkin.
Dan ternyata, cara sederhana itu berhasil. Bahkan tidak sampai satu minggu, frekuensi mengisap jempolnya semakin jarang, lalu perlahan menghilang sama sekali.
Tanpa drama. Tanpa tangisan. Tanpa perang panjang antara orang tua dan anak.
Akhirnya anak saya resmi lulus ngenyot jempol diusia 2,5 tahun. Mungkin terdengar seperti pencapaian kecil. Tapi begitulah proses tumbuh besar. Kadang milestone terbesar bukanlah hal-hal yang spektakuler, melainkan kebiasaan kecil yang diam-diam berhasil ditinggalkan.
Bangga sama kamu, Nak.
Growth is not only measured by the new things children learn, but also by the old habits they are brave enough to leave behind.

