Di Balik Pace yang Berbeda

by - July 07, 2026


Hari ini seperti biasa, once a week bekerja dari kantor. Karena sedang masa liburan, jalanan cukup padat. Perjalanan dari rumah ke kantor yang biasanya hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit, entah bagaimana bisa hampir satu jam lamanya. Aku merasa perjalanan ini seperti biasa saja, namun ternyata waktu berjalan lebih cepat daripada laju kendaraan yang aku tumpangi. Atau entah karena sepanjang perjalanan pikiranku banyak hinggap ke sana kemari, tanpa sadar seolah mengurangi laju kecepatan kendaraanku.

Akhir-akhir ini memang pikiranku banyak dihantui oleh kebijakan perusahaan yang nanti akan menerapkan layanan 24 jam, 7 days a week. Aku hanya khawatir, bagaimana jika nantinya aku ditugaskan bekerja tengah malam? Bagaimana aku menghadapi hectic-nya pagi hari ketika harus menyiapkan ini itu untuk anakku sebelum berangkat sekolah? Kebijakan ini memang belum sepenuhnya diterapkan, namun aku sudah gundah duluan. Lucunya, mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Sudahlah, membuang tenaga saja, ya. Benar, lebih baik fokus pada apa yang ada sekarang saja dulu.

Bekerja di kantor dan bertemu rekan kerja bagiku bisa menjadi dua mata pedang. Bisa mengobrol melepas stres bersama, atau justru ada informasi yang membuat semakin kepikiran, haha. Nah, kali ini ada hal yang sebetulnya bukan ditujukan padaku, namun aku merasa bahwa itu adalah aku. Ada rekan kerja yang bercerita tentang partner-nya, yang sejatinya sudah lama bekerja dengannya, namun dalam assessment skornya kalah dengan rekan kerja yang baru saja masuk. Apakah ekspektasinya terhadap rekan lamanya ini ketinggian? Menurutku tidak. Standar saja, karena memang rekan yang sudah lama bekerja seharusnya lebih ahli daripada rekan yang baru saja masuk. Sama dengan ceritaku sebelumnya, kan?

Dari sini aku menyadari bahwa tidak semua orang memiliki ambisi dan kesempatan yang sama. Rekan kerja yang baru masih muda, single dan agile. Mereka bisa bekerja dan belajar tak kenal waktu, tak ada batasan, tak ada gangguan. Sedangkan rekan yang lama tersebut, sudah menikah dan baru punya anak. Aku mengerti bagaimana repotnya menjadi ibu baru, terlebih tanpa ART ataupun babysitter. Aku sudah mengalami hal itu sehingga tahu betul bagaimana tantangannya. Setelah cuti melahirkan 3 bulan, harus langsung berpacu mengejar ketertinggalan product knowledge, baru sebentar buka pekerjaan anak sudah rewel, entah menangis, minta diajak main, lapar, mandi, dan segala aktifitas manusia lainnya yang belum bisa ia lakukan sendiri. I know it, tapi bukan berarti hal itu menjadi hal yang perlu dimaklumi. Ada yang namanya profesionalisme. Jika merasa tak mampu, maka cari solusinya. Kalau aku, anak dititipkan di daycare. Namun aku tidak mengutarakan apa yang ada dipikiranku ini kepada rekanku yang sedang curhat ini. Khawatir dia jadi antipati, well karena dia sendiri berprinsip child-free.

Singkat cerita, rekan yang bercerita denganku pun sepakat, bahwa tidak semua orang bisa dia berikan ekspektasi yang sama ataupun diberikan workload dengan pace solving yang sama karena berbagai tantangan yang kita sendiri pun mungkin tidak begitu paham. Akhirnya dia sedikit mengurangi ekspektasi, tidak generalisir kemampuan dan ambisi, dan memang jika rekannya itu tidak mampu, langsung lempar aja ke tim teknis, karena notabennya pekerjaan mereka adalah menerima keluhan, jika mereka bisa langsung jawab, ya silahkan diselesaikan. Jika terlalu teknis, maka lempar saja ke tim teknikal. Jadinya bagaimana? Yah, jadinya ya pekerjaanku nambah lagi, hahaha. It's okay, honestly it's better that way karena memang sejak awal kontraknya memang begitu.

You May Also Like

0 comments