Saat AI Mulai Mengambil Alih

by - July 30, 2026



Mungkin ketika mesin pertama kali ditemukan, ada ketakutan yang muncul di benak para pekerja dewasa.

Bagaimana jika aku digantikan oleh mesin itu?

Saat itu, aku masih kecil dan tumbuh bersama perkembangan mesin. Sekarang, mesin bagaikan rekan kerja, sesuatu yang menurutku sudah menjadi hal yang wajar. Namun, ketika AI mulai menginvasi dunia kerja, para pekerja dewasa saat ini, termasuk aku, kembali merasakan ketakutan yang mungkin pernah dirasakan oleh para pekerja di masa lalu.

Bagaimana jika aku digantikan oleh AI?

Sementara itu, anakku yang masih kecil sedang tumbuh bersama perkembangan AI. Bisa jadi, ketika ia dewasa nanti, AI sudah menjadi rekan kerja yang normal dan menjadi bagian biasa dari kehidupan sehari-harinya.

Sore ini, meeting internal yang biasanya berfokus pada training diganti dengan sebuah announcement dari leader terkait perombakan yang mungkin akan cukup mengagetkan. Dan ya, menurutku, informasi ini benar-benar mengguncang mental kami.

AI sudah bisa melakukan banyak hal. Pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh AI akan mengalami pengurangan manpower, atau bahkan divisinya bisa dihilangkan. Sedikit bisa bernapas lega karena perusahaan masih berusaha mencarikan job desk di divisi lain yang sekiranya membutuhkan manpower. Setidaknya, kami tidak langsung dipecat begitu saja. Aku bersyukur karena para C-level di perusahaan ini masih sangat humanis.

Aku juga sedikit bisa menarik napas lebih dalam karena divisi tempatku bekerja berhubungan langsung dengan klien meskipun ada sisi teknisnya juga. Sejauh ini, AI belum begitu fasih dalam membangun relasi dengan manusia. Namun, yang benar-benar ketar-ketir adalah tim teknis. Tim di balik layar ini mungkin bisa digantikan oleh AI kapan saja. AI dapat melakukan automation, mencari root cause dari issue yang dilaporkan oleh klien, bahkan mengendus adanya issue sebelum disadari oleh klien. Setelah menemukan root cause-nya, AI juga dapat melakukan fixing dengan mudah. Dari sederet runtutan pekerjaan tersebut saja, seharusnya sudah ada beberapa job desk yang sebelumnya dilakukan oleh manusia, tetapi kini bisa dikerjakan oleh satu AI saja. Mengerikan, bukan? Bagaimana bisa tidak ketar-ketir?

Memang, AI sangat membantu dalam berbagai lini pekerjaan. Seiring berkembangnya teknologi, AI menjadi semakin pintar, semakin humanis, dan semakin tidak kaku. Namun, di saat AI semakin humanis, manusia justru terasa semakin tidak humanis. Manusia menjadi semakin bodoh karena ketergantungan pada teknologi dan semakin kaku dalam menghadapi realitas kehidupan yang semakin keras.

Miris.

Apakah nantinya aku juga akan terkena PHK karena AI? Entahlah.

Untuk sekarang, aku mencoba berpikir positif dan mengerjakan apa yang ada di hadapanku terlebih dahulu. Sebab, jika terus memikirkan hal-hal yang masih jauh di depan, bisa jadi aku justru akan semakin terpuruk karena pikiranku hanya dipenuhi oleh berbagai kemungkinan negatif.

You May Also Like

0 comments