Mendadak Meeting dengan CTO
by
ADS
- October 26, 2026
Hari ini aku bekerja seperti biasa. Aku mulai bekerja shift 1 dari jam 7 pagi dan selesai jam 3 sore. Tapi, sekitar jam setengah tiga, head division dari divisiku tiba-tiba menghubungiku. Beliau meminta aku untuk join ke salah satu meeting yang sedang beliau ikuti. Awalnya, aku kurang paham meeting apa yang akan aku ikuti. Aku hanya tahu bahwa meeting itu melibatkan para atasan. Baiklah, aku pun membuka link yang beliau berikan dan bergabung ke meeting tersebut. Ternyata, meeting itu melibatkan CTO.
Kaget aku. Shock. Speechless. Belum pernah aku meeting sama CTO secara langsung, maklum hirearki kami cukup jauh untuk bersinggungan. Mana saat itu hujan deras banget. Suara hujannya sampai bunyi pletak-pletak-pletak di atap dan bikin berisik. Akibatnya, aku kesulitan mendengar percakapan mereka selama meeting berlangsung. Aku akhirnya lebih banyak mendengarkan dan mengandalkan perasaan untuk memahami apa yang sedang mereka diskusikan dan apa yang mereka minta.
Saat itu, head division-ku sedang mempresentasikan workflow dari divisi kami. Di tengah presentasi tersebut, beliau tiba-tiba menunjukku untuk menjelaskan suatu case yang memang aku yang sedang handle. Aku pun berusaha menjelaskan case tersebut sebisa mungkin. Tapi, karena suara hujan masih deras banget, aku agak nggak ngeh dengan apa yang sebenarnya mereka tanyakan. Aku masih berusaha memahami maksud mereka sambil mendengarkan diskusi yang berlangsung. Ya sudah lah, aku jelaskan sebisaku.
Sebetulnya, workflow yang dipresentasikan itu sebenarnya cukup sederhana. Client menyampaikan suatu case, kemudian tim specialist kami meneruskan case tersebut ke tim engineers untuk diperiksa dan mengecek isu yang terjadi dan mencari tahu apa penyebabnya.
Sebenarnya, workflow ini sudah berjalan seperti biasa. Aku juga sudah terbiasa mengerjakan proses tersebut. Cuma, kali ini aku harus menjelaskannya di depan CTO. Ngerti lah ya bagaimana rasanya. Dag-dig-dug, padahal aku nggak punya persiapan apa-apa. Mana hujan deras banget, sampai aku nggak bisa mendengar diskusi mereka dengan jelas. Nah, case yang sedang dibahas saat itu adalah masalah client yang nggak bisa membalas pesan. Aku sudah melakukan pengecekan untuk mencari tahu penyebab masalah tersebut. Aku bahkan sudah mengonfirmasi temuan awal kepada tim terkait. Masalahnya, tim terkait ternyata juga nggak memahami penyebab error tersebut. Padahal, aku berharap mereka bisa membantu mengidentifikasi sumber masalah dan memberikan solusi yang tepat. Akibatnya, proses penyelesaian masalah ini mengalami time delay. Ada jeda waktu ketika kami masih menunggu kejelasan dari tim terkait. Di sisi lain, PIC dari pihak user atau client juga kembali menghubungi kami untuk menanyakan perkembangan masalah tersebut. Sebenarnya, aku nggak cuma memegang case ini. Aku juga harus mengerjakan case lainnya sesuai antrean yang ada. Jadi, aku memang harus membagi waktu dan menyelesaikan pekerjaan berdasarkan prioritas. Kondisi ini membuat proses penanganan satu case dengan case lainnya memiliki jeda waktu.
Ketika aku akhirnya mendapatkan jawaban dari tim terkait, aku justru belum mendapatkan solusi yang dibutuhkan. Tim tersebut ternyata masih belum bisa menyelesaikan masalahnya. Oke, aku berpikir bahwa masalah ini mungkin membutuhkan bantuan pihak ketiga, yaitu penyedia layanan yang digunakan. Akhirnya, aku meneruskan masalah tersebut ke pihak penyedia layanan melalui tiket. Tapi, ketika aku menjelaskan temuan yang sudah aku dapatkan kepada CTO, beliau justru mengatakan bahwa penyebab error tersebut sebenarnya sudah jelas. Menurut beliau, aku seharusnya nggak perlu meneruskan masalah ini ke pihak ketiga karena kami sudah memiliki gambaran mengenai sumber masalahnya. Aku sudah telanjur membuat tiket ke pihak ketiga. Tiket itu pun sudah mendapatkan balasan. Berdasarkan konfirmasi dari penyedia layanan, ternyata masalah tersebut berkaitan dengan pihak lain yang digunakan oleh user untuk melakukan komunikasi. Jadi, masalahnya bukan sesederhana yang terlihat dari pemeriksaan awal. Kami masih harus mengonfirmasi beberapa hal kepada pihak client atau user karena mereka menggunakan layanan pihak ketiga lainnya.
Dari situ, aku mulai berpikir, ini CTO-nya sadar nggak ya kalau dirinya keliru? Ngerti nggak maksudku? Di satu sisi, beliau merasa bahwa tim kami seharusnya bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Tapi, di sisi lain, hasil konfirmasi dari penyedia layanan justru menunjukkan bahwa ada pihak lain yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut. Artinya, kami tetap membutuhkan konfirmasi tambahan dari client atau user untuk memastikan penyebab masalahnya. Yah sampai akhir pun beliau tidak mengakui kekeliruannya.
Setelah memahami kondisi tersebut, CTO akhirnya mengatakan, “Oh, kalau kayak gini, workflow-nya kayaknya nggak bisa diefisiensi sudah.”. Oh, ternyata meeting ini memang diadakan untuk membahas efisiensi. Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, perusahaan kami sedang melakukan efisiensi besar-besaran karena adanya AI. Perusahaan ingin memaksimalkan penggunaan AI dan meminimalkan jumlah human yang terlibat dalam proses kerja. Jadi, sebenarnya meeting ini has a good point. Dari pembahasan tersebut, terlihat bahwa nggak semua pekerjaan di divisi kami bisa dibuat menjadi automation. Nggak semua proses bisa berjalan secara otomatis hanya dengan mengandalkan AI. Kenapa? Karena kami berhadapan langsung dengan user atau client. Kami juga harus berkoordinasi dengan pihak ketiga untuk menyelesaikan masalah tertentu. Ada proses komunikasi, konfirmasi, dan penelusuran masalah yang nggak bisa begitu saja diserahkan sepenuhnya kepada AI.
Ya, semoga meeting ini bisa memberikan secercah insight kepada Pak CTO mengenai kondisi pekerjaan di divisi kami. Aku juga berharap beliau nggak lagi membuat rotasi-rotasi untuk tim kami. Karena, istilahnya, sekarang ini tim kami sedang diobrak-abrik. Tim yang tadinya berada di sini dipindahkan ke sana. Tim yang sebelumnya mengerjakan sesuatu sekarang harus berpindah ke pekerjaan lain. Semuanya sedang diatur ulang karena adanya AI.
Sama seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, kan? AI ini benar-benar mengobrak-abrik semuanya, deh.

