Masa Awal Menjalani Malam Sendiri

by - July 31, 2026

Malam ini suamiku sedang bekerja. Seharusnya aku sudah terbiasa sendiri, sunyi. Bukankah selama ini aku memang terbiasa melakukan banyak hal sendiri?

Ada masa-masa ketika aku bahkan berpikir, mungkin hidup akan terasa lebih ringan jika aku benar-benar sendiri. Aku pernah berulang kali berpikir tentang perceraian. Ketika hidup terasa terlalu berat, ketika masalah datang bertubi-tubi, ketika aku merasa harus menjadi orang yang kuat bahkan ketika sebenarnya sudah tidak punya banyak tenaga, pikiran itu terasa begitu masuk akal. Aku bisa mengurus banyak hal sendiri. Aku bekerja. Mengurus rumah. Mengurus anak. Mengambil keputusan-keputusan yang kadang melelahkan. Jadi aku kira, kalau suatu hari benar-benar harus menjalani semuanya tanpa suami, mungkin aku akan baik-baik saja.

Ternyata aku tidak sesiap itu.

Bukan karena malam ini aku membutuhkan bantuannya. Justru karena aku tiba-tiba menyadari bahwa kehadiran seseorang di rumah ternyata punya arti yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa yang mengerjakan apa. Rumah terasa berbeda ketika dia tidak ada. Tidak ada suara atau gerakan kecil yang biasanya mungkin tidak terlalu kuperhatikan. Tidak ada kemungkinan dia tiba-tiba memanggilku. Tidak ada kerandoman yang kadang membuatku heran sendiri. Misalnya kebiasaannya membangunkanku tiba-tiba hanya untuk makan mi bersama. Kalau sedang mengantuk, mungkin aku akan mengomel dalam hati, ngapain sih bangunin orang cuma buat makan mi?

Tapi sekarang, ketika malam terasa begitu panjang dan dia sedang tidak ada di rumah, justru hal-hal semacam itu yang muncul di kepalaku.

Betapa anehnya manusia.

Hal-hal yang ketika terjadi terasa biasa saja, bahkan kadang menjengkelkan, ternyata bisa menjadi bagian dari sesuatu yang kita rindukan ketika ia tidak ada. Dan mungkin yang membuat semuanya semakin rumit adalah kenyataan bahwa suamiku bukanlah suami yang sempurna.

Aku masih menyimpan luka dari masa lalu.

Pernah ada pengkhianatan. Ada perempuan lain. Ada kepercayaan yang rusak dan bagian dari diriku yang sampai sekarang rasanya belum sepenuhnya pulih. Aku mungkin sudah melanjutkan hidup bersamanya, tetapi bukan berarti semua yang terjadi otomatis hilang dari ingatan. Kadang, tanpa sadar, aku masih mengutuknya dalam hati. Bukan karena setiap hari aku ingin membencinya. Mungkin justru karena ada bagian dari diriku yang masih terluka dan belum tahu harus meletakkan rasa sakit itu di mana. 

Pernah juga terlintas pikiran yang lebih gelap. Bagaimana jika kesulitan yang kami alami sekarang adalah akibat dari doa-doaku ketika aku sedang sangat marah? Ketika dia mengkhianatiku dulu, mungkin pernah ada doa-doa yang tidak baik yang keluar dari hati yang terluka. Dan sekarang, ketika perjalanan kariernya terasa begitu sulit, ketika dia berkali-kali kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak, aku sempat berpikir: jangan-jangan aku pernah mendoakan ini untuknya.

Aku tahu, mungkin itu bukan cara yang adil untuk melihat hidup. Ada begitu banyak hal yang menentukan perjalanan seseorang. Keputusan, kesempatan, keadaan ekonomi, kemampuan, dan hal-hal yang bahkan tidak bisa kita kendalikan. Tetapi pikiran seperti itu tetap saja muncul. Apalagi sekarang dia akhirnya mendapatkan pekerjaan, meski harus bekerja shift malam. Aku seharusnya bersyukur dia mendapatkan pekerjaan. Dan aku memang bersyukur. Tetapi malam ini, ketika dia sedang bekerja dan rumah terasa lebih sepi, aku justru menemukan sesuatu yang tidak kusangka-sangka.

Aku merindukannya.

Bukan versi dirinya yang sempurna. Bukan suami yang selalu melakukan semuanya dengan benar. Bukan juga berarti luka karena pengkhianatan itu sudah sembuh. Aku hanya merindukan orang yang kadang-kadang tiba-tiba membangunkanku untuk makan mi. Sesederhana itu ternyata. Orang yang membawa kerandoman ke dalam rumah. Orang yang keberadaannya mungkin selama ini terlalu biasa sampai aku lupa bahwa suatu hari, ketika dia tidak ada, rumah bisa terasa sangat berbeda.

Mungkin mencintai seseorang memang tidak selalu berarti kita tidak pernah ingin meninggalkannya. Dan pernah ingin pergi juga tidak selalu berarti kita tidak akan merindukannya. Barangkali manusia memang bisa menyimpan dua perasaan yang bertolak belakang dalam satu hati.

Aku bisa masih terluka karena apa yang pernah dia lakukan. Aku bisa masih marah. Aku bisa masih bertanya-tanya apakah hidup kami akan lebih mudah jika dulu memilih jalan yang berbeda. Namun pada malam seperti ini, aku juga bisa merindukan suara dan kebiasaan-kebiasaan kecilnya. Dan mungkin malam ini aku sedang belajar satu hal: ternyata mampu melakukan semuanya sendiri tidak sama dengan tidak membutuhkan siapa-siapa. Aku tetap bisa berdiri sendiri. Tetapi ternyata, sesekali, aku juga ingin ada seseorang yang tiba-tiba datang membawa semangkuk mi dan mengajakku makan bersama.

You May Also Like

0 comments