Simbah, Apakah Penyesalan Ini Akan Aku Bawa Sampai Mati?
Lebih baik menyesal karena telah melakukan sesuatu daripada menyesal karena tidak pernah melakukannya. Namun, apakah prinsip itu akan selalu benar?
Aku benar-benar menyesal karena tidak mengucapkan salam perpisahan kepada simbah. Simbah yang merawatku sejak kecil ketika kedua orang tuaku sibuk bekerja. Simbah yang menjagaku, mengajariku banyak hal, dan menjadi bagian besar dari masa kecilku. Meski ingatanku tentang masa itu sudah agak samar karena aku masih sangat kecil, ada beberapa hal yang tetap melekat kuat di benakku. Sejak kecil, orang tuaku sibuk bekerja. Aku lebih banyak berada di rumah bersama ART, setidaknya sampai aku lulus TK.
Saat memasuki sekolah dasar, selama enam tahun penuh, setiap pulang sekolah hingga sore hari aku berada di rumah simbah. Memang sengaja sekolahku dipilih yang lokasinya dekat dengan rumah beliau. Aku masih ingat jalan-jalan yang kulewati setiap hari, gang-gang sempit yang dulu membuatku takut, rumah tua yang terasa angker di dekat masjid, hingga detail rumah-rumah yang kulewati. Semuanya terasa seperti baru terjadi kemarin.
Namun ketika aku mencoba menyusuri jalan itu kembali sekarang, rasanya begitu asing. Hatiku terasa sakit. Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan. Bahkan ketika aku hanya mencoba menelusuri kembali jalan-jalan itu dalam ingatan, tanpa sadar aku menangis.
Saat masuk SMP, aku mulai beranjak mandiri. Mungkin aku cukup beruntung saat itu. Berasal dari sekolah dasar di pinggiran, aku berhasil lolos seleksi masuk ke SMP favorit. Lokasinya cukup jauh dari rumah simbah, bisa dibilang berada di tengah-tengah antara rumahku dan rumah beliau.
Sejak saat itu, aku mulai jarang singgah ke rumah simbah.
Ketika SMA, frekuensi kunjunganku semakin berkurang. Mungkin hanya satu atau dua kali dalam seminggu. Dan justru di sinilah salah satu sumber penyesalanku. Bagaimana bisa aku begitu jarang datang? Padahal saat SD, bisa dibilang aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah simbah daripada di rumahku sendiri.
Saat kuliah, aku semakin jarang pulang ke rumah. Apalagi mampir ke tempat simbah. Kalaupun datang, hanya sesekali. Saat itu aku merasa tidak nyaman. Ego masa mudaku membuatku merasa bahwa dunia simbah adalah dunia yang sudah tua, jadul, kolot, dan asing.
Lalu suatu hari datang kabar itu. Simbah meninggal dunia.
Saat itu aku sedang berada di masa ujian kuliah. Aku dilema antara pulang atau tetap tinggal. Orang tuaku memahami kondisiku dan berkata bahwa tidak apa-apa jika aku tidak datang. Mereka menyuruhku fokus menyelesaikan ujian, sementara semua urusan keluarga akan mereka tangani. Aku mengiyakan. Saat itu aku merasa simbah bukan lagi seseorang yang benar-benar kukenal dekat. Setidaknya, itulah yang kupikirkan waktu itu.
Dan hingga hari ini, lebih dari satu dekade telah berlalu, aku masih menyimpan penyesalan yang sangat besar atas keputusan tersebut.
Aku membenci diriku yang saat itu.
Aku marah pada diriku sendiri karena begitu bodoh.
Aku tidak datang untuk terakhir kalinya.
Aku tidak mengucapkan terima kasih.
Aku tidak mengucapkan selamat tinggal.
Dan yang paling menyakitkan, aku baru menyadari betapa berharganya kehadiran simbah setelah beliau benar-benar tidak ada.
Ada penyesalan yang memudar seiring waktu. Ada pula yang berubah menjadi pelajaran. Namun ada juga penyesalan yang tetap tinggal, diam-diam hidup di sudut hati, muncul kembali setiap kali kenangan masa kecil datang menyapa.
Mungkin ini salah satunya.
Mungkin beberapa orang pergi bukan untuk dilupakan, melainkan untuk mengajarkan kita bahwa waktu bersama orang-orang yang mencintai kita tidak akan pernah bisa diulang. Dan sering kali, yang paling kita sesali bukanlah kata-kata yang pernah terucap, melainkan kata-kata yang tidak sempat kita ucapkan.

0 comments