Recap Ramadhan 1447 H: Tiga Rumah, Tiga Ritme Sahur

by - March 24, 2026

Hari pertama sahur tahun ini, tiba-tiba aku teringat satu momen lama, yakni masa-masa sahur di kosan. Waktu itu, aku hanya perlu bangun ketika ibu kos mengetuk pintu, biasanya mendekati imsak, sekitar pukul 4 pagi. Dengan mata setengah terbuka, aku tinggal antre mengambil makan dan minum. Sederhana, tanpa banyak pikir.

Sekarang, semuanya berbeda.

Aku justru harus menjadi orang pertama yang bangun. Pergi ke dapur saat rumah masih terlelap, menyiapkan sahur sambil berpacu dengan waktu. Bukan hanya soal memasak, tapi juga soal strategi bagaimana agar tidak terlalu lama meninggalkan anak yang masih tidur. Karena kalau ia terbangun, urusannya bisa panjang. Dan benar saja, sering kali di tengah sahur ia tetap terbangun. Akhirnya, aku dan suami harus bergantian menemaninya. Padahal, awalnya kami sempat menikmati sahur berdua dengan suasana yang hangat sedikit romantis di sela kesibukan. Tapi ya, begitulah hidup sekarang. Ada jeda, ada tawa, ada juga distraksi kecil yang justru terasa berarti.

Tempat sahur ternyata sangat menentukan ritme hidup.

Tahun ini, kami sempat dua minggu tinggal di rumah orang tua suami, seminggu sebelum Ramadhan dan seminggu saat Ramadhan. Di sana, aku harus bangun jauh lebih awal. Bahkan jam 2 dini hari, rasanya belum bisa disebut pagi. Menyiapkan sahur untuk keluarga besar bukan sekadar soal jumlah porsi, tapi soal ragam. Harus ada sayur berkuah, tumisan, lauk sebagai sumber protein. Minumannya pun tidak satu, tapi dua, ada teh hangat dan minuman rempah. Semuanya harus siap tepat waktu. Berbuka puasa bahkan lebih meriah lagi. Selain hidangan utama, ada berbagai takjil, bubur, hingga es-esan. Untungnya, ada rewang yang membantu. Kalau tidak, mungkin tenaga ini sudah habis duluan sebelum berbuka.

Setelah satu minggu yang terasa “dar der dor”, akhirnya kami kembali ke rumah sendiri. Tempat paling nyaman untuk kembali menjadi diri sendiri. Di sini, aku hanya perlu bangun sekitar jam 3 pagi. Tidak perlu banyak variasi, tidak perlu sempurna. Hanya kami berdua, makan seadanya, sesederhana mungkin. Bahkan untuk berbuka, kalau tidak sempat memasak, kami memilih membeli saja. Dan aku bersyukur, memiliki suami yang tidak banyak menuntut soal urusan dapur.

Memasuki minggu keempat, kami pulang ke kampung halamanku. Di sana, aku kembali menjadi “anak”. Bangun mendekati waktu sahur, lalu tinggal makan dan minum yang sudah tersedia. Tidak perlu memikirkan apa yang harus dimasak, tidak perlu terburu-buru ke dapur. Ibuku sudah menyiapkan semuanya. Dan di titik itu, aku terdiam sejenak. Apakah nanti, ketika aku seusianya, aku bisa melakukan hal yang sama?

Pertanyaan itu diam-diam menetap. Mengingatkanku untuk lebih sering membantu, lebih banyak belajar, dan diam-diam menyiapkan diri. Bukan hanya untuk bisa melakukan semuanya, tapi juga untuk membesarkan anak yang kelak punya empati dan kesadaran untuk membantu. Di rumah itu, dapur adalah wilayah ibuku. Sementara aku mengambil peran lain, membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mencuci, menjemur, hingga menyetrika.

Perbedaan yang sangat mencolok ya, antara di rumah sendiri, di rumah mertua dan di rumah orang tua sendiri? 

Karena memang, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Kami merayakan Idul Fitri di sana. Setiap bertemu orang-orang lama, selalu ada kalimat yang sama:
“Lama ya nggak kelihatan?”
“Sudah besar sekarang?”
“Jarang pulang, ya?”

Padahal, setiap Ramadhan kami selalu pulang. Hanya saja, waktu dan tempatnya bergantian antara rumah orang tuaku dan mertua. Itu sudah menjadi kesepakatan kami sejak awal menikah. Merayakan hari Idul Fitri bergantian, jadi ya bisa dibilang merayakan hari Idul Fitri di rumah orang tuaku dua tahun sekali. 

Setidaknya, sekali dalam setahun kami pasti pulang. Ditambah jika ada libur panjang, acara keluarga, atau kebutuhan tertentu. Dan aku bersyukur, memiliki orang tua yang begitu pengertian.

H+2 Idul Fitri, kami kembali ke perantauan.

Kembali ke rutinitas. Kembali ke peran. Kembali ke kehidupan yang terus berjalan.

You May Also Like

0 comments