You Found Me
Sebuah Pengakuan dari Teman Beda Keyakinan
Aku pernah ditembak oleh seseorang yang benar-benar di luar dugaan. Saking tidak terduganya, sampai sekarang pun rasanya masih aneh kalau diingat.
Aku mengenalnya sejak SMP. Tapi saat itu, hubungan kami biasa saja. Sekadar tahu nama, sekadar satu lingkungan sekolah. Tidak dekat, tidak juga punya cerita berarti. Selain itu, sejak awal kami sudah punya perbedaan: kami berbeda kepercayaan dan berbeda suku. Hal yang waktu itu tidak pernah kupikirkan terlalu jauh, karena toh kami hanya teman.
Semua mulai sedikit berubah ketika SMA. Ternyata kami satu sekolah lagi, bahkan satu kelas. Di sanalah kami mulai sering berinteraksi. Tapi bagiku, kedekatan itu murni sebagai teman. Tidak lebih. Perbedaan di antara kami membuatku secara tidak sadar memasang batas, aku tidak pernah menganggapnya lebih dari sekadar teman sekolah.
Dia selalu duduk di bangku belakangku. Entah disengaja atau kebetulan. Yang jelas, dia punya kebiasaan aneh: sering mengganggu teman sebangkuku. Saat itu aku menganggapnya lucu. Aku tertawa, merasa terhibur. Sekarang kalau dipikir-pikir, aku agak jahat juga. Temanku “tertindas”, sementara aku malah kegirangan, tanpa pernah berpikir apa maksud sebenarnya di balik semua itu.
Waktu berjalan. Naik kelas dua SMA, kami tidak lagi sekelas. Hubungan kami pun kembali biasa, hanya sebatas saling sapa seperlunya. Tidak ada cerita, tidak ada kedekatan khusus. Perbedaan agama dan suku di antara kami tetap membuatku merasa, ya memang cukup sampai di sini saja.
Lalu kami lulus.
Masuk masa perkuliahan, takdir kembali mempertemukan kami. Kami kuliah di kota yang sama, meskipun berbeda universitas. Sebagai anak rantau yang benar-benar asing dengan kota ini, aku merasa sendirian. Saat itulah dia mengajakku jalan-jalan. Aku mengiyakan. Tanpa curiga. Tanpa pikiran macam-macam. Dalam kepalaku, itu hanya dua teman lama yang kebetulan sama-sama di perantauan. Lagi pula, aku merasa aman karena perbedaan kami, aku tidak pernah membayangkan ada perasaan lain di balik ajakan itu.
Sampai hari itu tiba.
Menjelang malam, kami mampir ke taman lampion. Lampu-lampu menyala indah, suasananya tenang, bahkan bisa dibilang romantis. Tapi justru di tempat itulah, dia tiba-tiba berbicara dengan nada serius. Dia bilang… dia suka padaku.
Aku bengong.
Bukan senang. Bukan terharu. Tapi tidak percaya. Banyak hal langsung berputar di kepalaku. Perbedaan kepercayaan kami. Perbedaan suku kami. Hal-hal yang sejak awal membuatku tidak pernah membuka ruang untuk rasa itu tumbuh. Belum lagi satu hal lain yang cukup menggangguku: teman dekatnya juga menyukaiku. Di kepalaku hanya ada satu pertanyaan,
“Masa iya dia suka sama gebetan temannya sendiri?”
Lalu dia mulai bercerita. Tentang masa lalu. Tentang alasan kenapa dulu dia selalu mendekatiku saat SMA. Tentang kenapa dia sering mengganggu teman sebangkuku, ternyata itu caranya mencari perhatianku. Saat itu aku hanya bisa diam. Semua potongan kejadian yang dulu kuanggap biasa, tiba-tiba terasa berbeda maknanya.
Ironisnya, tempat itu seharusnya romantis. Tapi aku sama sekali tidak bisa menikmati suasananya. Pengakuan itu terlalu tiba-tiba. Terlalu jauh dari prediksiku. Terlalu bertabrakan dengan realita bahwa kami berbeda dalam hal yang tidak sederhana. Sejujurnya, jika sejak awal aku tahu dia memiliki perasaan seperti itu, aku tidak akan mau diajak jalan berdua seperti ini.
Karena tidak semua kejutan terasa menyenangkan. Dan tidak semua rasa bisa diterima, meski datang dengan jujur.
Diantara Dua Pilihan
![]() |
Gambar
asli dari sini
|


