Saat Makan Bukan Lagi Soal Hasrat, Tapi Untuk Bertahan
Jadi, begini ya rasanya menjadi tulang punggung keluarga?
Masih tanggal segini, tapi uang sudah habis. Ini sudah kedua kalinya saldo ATM tidak sampai seratus ribu, bahkan kali ini, lima puluh ribu pun tidak ada. Gas di rumah juga sudah habis. Kalau salah satu dari gas untuk water heater atau kompor mati, tidak ada cadangan. Harus dipakai bergantian sampai gajian tiba, padahal gajian masih seminggu lagi.
Beberapa malam terakhir, aku sering terbangun. Bukan karena suara, tapi karena pikiran. Besok makan apa? Itu yang terus berputar di kepala. Beras sudah hampir habis, dan mau tidak mau harus beli. Aku jadi teringat sesuatu yang pernah aku baca: selama masih punya uang, belilah beras lebih banyak. Supaya ketika nanti tidak punya uang, setidaknya di rumah masih ada yang bisa dimasak. Soal lauk, entah apa. Bahkan dengan kerupuk pun, rasanya sudah cukup untuk disyukuri.
Tapi tetap saja, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu: apakah kami bisa bertahan sampai seminggu ke depan?
Entahlah.
Yang bisa aku lakukan sekarang hanya berpegang pada satu hal, percaya. Tuhan Maha Penyayang, Maha Pemurah, Maha Pemberi Rezeki. Meski kadang logika tidak bisa menjangkau, aku memilih untuk tetap percaya. Aku sudah sampai di titik pasrah, tapi bukan berarti menyerah. Aku tetap berjuang, setidaknya untuk bertahan.
Ketika hidup terasa sempit, percaya adalah ruang terakhir yang harus dijaga.
Malam itu, ada hal kecil yang tiba-tiba terasa besar padahal biasanya biasa saja. Suamiku ingin membuat mi untuk camilan. Padahal kami sudah makan nasi dengan ayam, bahkan dia sempat menambah. Aku sempat bertanya, “Lapar atau cuma ingin?” Dia menjawab, “Dua-duanya.” Aku diam sebentar, lalu hanya bilang, “Buat secukupnya saja, ya.”
Bukan tanpa alasan. Aku benar-benar tidak tahu kapan kami bisa belanja lagi. Di titik ini, aku sadar, makan bukan lagi soal keinginan, tapi soal kebutuhan. Keinginan untuk sekadar “ngunyah” terasa seperti kemewahan yang harus ditahan. Dan aku pun melakukan hal yang sama. Hari itu, aku sempat ingin makan burger. Sederhana, tapi terasa jauh. Aku menahan keinginan itu, mencoba mengingatkan diri sendiri bahwa sekarang bukan waktunya mengikuti hasrat. Makan harus karena butuh, bukan karena ingin. Karena hidup, ternyata, tidak sesederhana itu.
Saat keinginan harus dikalahkan oleh kebutuhan, di situlah hidup mengajarkan arti cukup.
Aneh ya, di tengah semua ini, nafsu makanku justru perlahan menghilang. Porsiku semakin sedikit, bahkan kadang malas makan. Mungkin ini caraku beradaptasi. Yang penting anak makan, yang penting suami makan sampai kenyang. Apalagi sekarang, aku tahu suamiku sedang rentan stres. Jadi aku harus lebih kuat, atau setidaknya terlihat kuat.
Kadang, aku masih bisa tersenyum. Masih bisa tertawa kecil. Tapi saat menuliskan semua ini, rasanya getir sekali. Begini ya, ternyata, rasanya menjalani hidup sebagai tulang punggung keluarga, saat dihadapkan langsung dengan realita.
0 comments