Get me outta here!

Yang Lain Sudah Nikah, Kamu Kapan?

- gambar: weheartit.com -

Akhir-akhir ini banyak banget teman yang update sosial media lagi akad nikah, sedang menggelar pesta pernikahan mewah, lagi hamil, lagi gendong bayi, lagi nyuapin anaknya, lagi mainan sama anaknya dan lain sebagainya. Yang beberapa pekan ini marak yaitu update habis melahirkan, masya'Allah aku turut berbahagia untukmu, sungguh. Meskipun dalam hati yang paling dalam juga ada keinginan untuk merasakan kebahagiaan yang sama. Tapi Allahu'alam, rejeki, jodoh dan kematian kan ada ditangan Allah, kita hanya bisa berusaha yang terbaik. 

Senang lihat orang lain sudah dalam tahap yang -terlihat- lebih baik, lebih naik level lagi. Tapi melihat hal itu, hati manusia seperti saya terkadang juga merasa iri, astagfirullah. Sebenarnya hal itu akan berangsur menghilang dengan sendirinya, tapi terkadang juga muncul lagi dan diperparah adanya orang ketiga yang makin bikin nyesek. Ada aja orang yang suka nambahin rasa pilu. Nanyain hal yang sebetulnya nggak patut untuk ditanyakan. Kesel uwe rasanya..

Kapan wisudanya?
Kapan nikahnya?
Kapan punya anak?
Kapan nambah momongan?
Kapan punya rumah sendiri?
Kapan... Kapan..
Kapan matinya?

Eh.. pertanyaan yang terakhir cuma candaan sih, haha. Kesel aja gitu. Pertanyaan macam itu, kan semua ada ditangan Allah jawabannya, kita hanya menjalankan, merencanakan dan mempersiapkan sebaik mungkin. Mbok ya tolong, basa basinya jangan yang nyakitin gitu. Banyak hal lain yang bisa dijadikan bahan obrolan yang lebih bernilai positif dan nggak nyakitin kok.

Sadar atau tidak, pertanyaan itu akan membekas dan seperti menyalahkan diri sendiri. Kok aku gini ya? Teman atau orang lain udah begini begitu? Padahal kan si dia begini begitu, kenapa malah aku yang jadi begini? Terus aja gitu mencari akar permasalahan yang sebenernya -menurutku- nggak perlu dicari. Hal-hal semacam ini akan membuat makin merasa down, semakin merasa minder, makin menyalahkan diri sendiri. Dan berujung pada depresi..

Nggak semua yang orang lain pikir, sama dengan jalan pikiran atau rencana kita. Misalnya ada pasangan yang sudah menikah setahun, orang lain udah berisik nanyain kapan punya anak, kapan punya rumah sendiri, dll. Padahal, pasangan tersebut memang merencanakan untuk punya anak setelah menikah dua tahun, setelah perekonomian keluarga mulai stabil, atau berencana punya rumah setelah lima tahun ngontrak rumah sembari menabung. Orang lain yang mendengar jawaban seperti itu rata-rata akan bilang, ngapain nunda momongan? Nanti susah punya anaknya lho.. Astagfirullah, bukannya mendoakan yang baik-baik malah seperti itu. Mengikis keharmonisan rumah tangga aja nih orang-orang seperti ini.

Nggak semua yang terlihat adalah hal yang sebenernya. Kan kita ngga tahu ya kehidupan seseorang itu seperti apa. Bisa jadi dia senyum, ketawa ketiwi tapi ketika sendiri merasa terpuruk. Misalnya seseorang mahasiswa yang sudah kuliah tujuh tahun, udah jadi omongan tetangga sana-sani, kemana-mana ditanyain kapan lulus. Padahal kalau dilihat cuma santai kesana kemari nggak jelas. Tapi siapa yang tahu? Kalau ternyata sebenarnya dia kesana kemari karena suatu kerjaan yang memang harus dia kerjakan demi mendapatkan uang untuk biaya hidup da dan keluarganya? 

Dan poin yang terakhir, membandingkan kehidupan. Mungkin memang sifat dasarnya manusia suka membandingkan, dia suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain, kalau hal ini dilakukan untuk memotivasi diri sendiri agar lebih baik, it's oke. Tapi kalau malah jadi terpuruk ya mending nggak usah lihat-lihat kehidupan orang lain deh ya. Yang menjadi masalah adalah ketika ada seseorang, misalnya sebut saja Bunga, membandingkan kehidupan si Bulan dan si Fulan. Kemudian hasil analisa asal-asalan si Bunga ini disampaikan kepada si Fulan, kemudian si Fulan jadi jadi sakit hati. 

"Itu lho si Bulan, baru menikah beberapa bulan saja sudah positif hamil. Kamu kapan Fulan? Jangan nunda-nunda, nanti susah punya anaknya lho. Jangan takut ngga punya duit, nanti pasti ada rejekinya kok." Si Fulan cuma angguk-angguk aja, senyum-senyum. Pulang kerumah saat sendiri baru nangis sesenggukan. Eh ternyata si Fulan ini ada permasalahan dengan organ kewanitaannya yang menyebabkan dia akan mengalami kesulitan untuk hamil dan bisa jadi, ketika hamil akan membahayakan nyawa si Fulan. Sedih nggak sih?

Apakah salah si Fulan karena nggak bilang kalau dia sakit? Engga juga, bisa jadi dia nggak bilang karena nggak ingin melihat orang lain bersedih dan mengasihaninya. Hak si Fulan untuk menyimpannya, iya kan? Hak si Bunga juga untuk berbicara apa yang ingin disampaikan, tapi si Bulan bisa memilah apa yang bisa dia sampaikan, apakah patut atau tidak.

Bukankah lidah memang tak bertulang? Tapi apakah dengan alasan itu, akan membenarkan semua hal menyakitkan yang keluar dari mulut?

0 comments:

Post a Comment