Mencari Jawaban, Malah Pulang Membawa Pertanyaan Baru
Setelah kunjungan kami ke profesor dokter spesialis anak beberapa waktu lalu, seperti yang sudah pernah saya ceritakan, akhirnya kami mendapatkan rujukan lanjutan ke dokter spesialis pencernaan anak alias gastro. Sebenarnya, waktu itu Prof DSA memang sudah membicarakan kemungkinan kami perlu bertemu dokter gastro. Kami juga sempat sedikit berdiskusi mengenai alergi dan imunologi. Karena kami menggunakan BPJS, tentu saja jalannya harus dari rujukan ke rujukan. Tidak bisa begitu saja memilih dokter mana yang ingin kami datangi. Akhirnya saya mendaftarkan anak saya ke poli gastro di rumah sakit rujukan akhir.
Dan di sinilah drama dimulai.
Pada hari H, saat kami hendak check-in, ternyata pendaftaran kami gagal. Katanya, kami mendaftar ke poli yang tidak sesuai dengan surat rujukan. Saya cek lagi surat rujukannya. Benar.Ternyat a rujukannya memang tertulis ke dokter spesialis alergi dan imunologi, bukan gastro.
Lho?
Padahal dari konsultasi sebelumnya, kami sudah mendengar jelas pembicaraan mengenai gastro. Saya pun mendaftarkan sesuai dengan pemahaman saya dari konsultasi tersebut. Yang membuat saya semakin kesal adalah... Kalau memang pendaftarannya tidak sesuai rujukan, kenapa ketika saya melakukan registrasi sebelumnya bisa berhasil? Kenapa baru ketahuan ketika sudah datang dan hendak check-in? Kalau dari awal sistem bisa membaca bahwa poli yang saya pilih tidak sesuai dengan rujukan, seharusnya dari awal saja registrasinya ditolak. Bukan sudah daftar. Sudah datang jauh-jauh. Sudah antre check-in. Baru kemudian gagal.
Akhirnya saya pergi ke bagian informasi untuk membatalkan dan mencoba reschedule. Ternyata tidak bisa karena kuota sudah penuh. Ya Tuhan... Jadi kami datang ke rumah sakit, antre, menghabiskan waktu dan tenaga, lalu pulang tanpa bertemu dokter yang dituju. Kesal? Jelas.
Belum lagi ketika sampai di bagian informasi, petugasnya menurut saya cukup judes. Saya paham mungkin petugas juga lelah menghadapi banyak pasien. Tapi pasien juga tidak kalah lelah, lho. Kami sudah datang jauh-jauh. Sudah gagal check-in. Sudah bingung dengan sistemnya. Dan akhirnya saya malah diarahkan untuk melakukan registrasi online lagi, karena petugas tidak melayani registrasi non-online.
Ya Tuhan... Kami kan sudah ada di rumah sakit. Kenapa harus registrasi online lagi? Apalagi verifikasinya juga dari front office tersebut. Rasanya kesal yang satu belum selesai, sudah ditambah kesal yang lain. Dari pengalaman pertama ini saja, saya sudah mulai tidak sreg dengan rumah sakit rujukan akhir kami. Bukan hanya karena sistem BPJS yang menurut saya membingungkan, tetapi flow rumah sakitnya sendiri juga terasa tidak bagus. Ada beberapa anjungan pendaftaran. Tetapi keterangannya sangat kecil dan hanya berada di depan monitor. Sementara antreannya mengular. Dari jauh, saya tidak tahu mana yang untuk registrasi ulang, mana yang untuk check-in, mana yang untuk mengambil tiket ke front office. Baru ketika sudah sampai di depan monitor, oh... ternyata ini untuk registrasi ulang. Padahal saya mau check-in. Artinya? Harus antre lagi dari belakang. Kacau sekali flow-nya.
Kantin juga kecil sekali dan pilihannya sangat terbatas. Padahal jumlah pasien banyak. Tempat duduk untuk menunggu pun minim. Sudah tahu pasiennya sebanyak itu, tetapi tempat untuk menunggunya tidak sebanding. Tapi ya sudahlah. Kami akhirnya pulang. Dan saya pikir, mungkin lain kali akan lebih baik.
Hari berikutnya, kami kembali lagi ke rumah sakit. Kali ini hari Senin. Dan ternyata jauh lebih ramai dibandingkan kunjungan pertama kami yang kebetulan hari Sabtu. Ramainya bukan main. Rasanya seperti pasar. Setidaknya kali ini kami sudah tahu harus antre di sebelah mana. Jadi tidak ada lagi drama salah antre. Tapi ternyata antreannya... Mengular. Satu jam. Satu jam penuh hanya habis untuk proses check-in. Baru mulai saja, baterai tenaga saya rasanya sudah berkurang cukup banyak.
Setelah itu kami naik ke lantai atas untuk pemeriksaan awal oleh nurse seperti biasa: berat badan, tinggi badan, lingkar kepala anak, dan sebagainya. Dan lagi-lagi... Antreannya kacau. Berdesakan. Tidak nyaman. Saling serobot. Saya banyak melongo melihat ketidakteraturan itu. Dalam hati saya benar-benar bertanya, Kenapa rumah sakit besar yang menjadi rujukan akhir bisa seperti ini?
Saya bahkan hampir menangis ketika anak saya terdorong-dorong oleh ibu-ibu lain yang mungkin juga sudah tidak sabar menunggu. Saya tahu semua orang sama-sama lelah. Saya tahu semua orang juga membawa anak yang sakit. Tapi melihat anak sendiri berada di tengah kerumunan, terdorong ke sana-sini, rasanya hati saya tidak kuat.
Dan ternyata penderitaan kami belum selesai. Kami masih harus menunggu untuk bertemu dokter spesialis anak. Dua jam kami menunggu, tanpa nomor antrean yang jelas. Tidak ada layar yang menunjukkan sekarang antrean nomor berapa. Tidak ada transparansi. Kami bahkan tidak tahu apakah antrean kami sudah terlewat atau belum. Jadinya kami harus bolak-balik bertanya kepada nurse.
Dua jam menunggu tanpa kepastian. Sementara kursi tunggu sangat minim. Akhirnya kami ngemper, duduk di lantai. Bukan cuma kami. Banyak orang tua lain juga duduk di lantai bersama anak-anak mereka yang sedang sakit. Saya benar-benar merasa miris. Rumah sakitnya besar. Pasiennya banyak. Tapi orang tua dan anak-anak yang sedang sakit justru harus duduk di lantai karena tidak ada tempat duduk yang cukup.
Setelah dua jam, akhirnya nama kami dipanggil juga. Saya pikir, akhirnya... Mungkin semua rasa lelah ini akan terbayar. Ternyata tidak. Dokter spesialis alergi dan imunologi yang sejak awal kami tunggu-tunggu untuk berdiskusi ternyata tidak hadir. Dan digantikan oleh dokter lain, dokter yang bahkan kami tidak kenal. Yang lebih membuat saya kecewa, hal itu tidak disampaikan sejak awal. Kenapa tidak diberitahu saja bahwa dokternya tidak hadir? Kalau dari awal kami tahu, setidaknya kami punya pilihan. Mau lanjut konsultasi dengan dokter pengganti? Atau reschedule dan menunggu dokter yang memang ingin kami temui. Kami bisa menentukan sendiri.
Kami sudah menunggu dua jam, masuk ke ruangan, lalu ternyata dokter yang kami harapkan tidak ada. Dan konsultasinya pun dilakukan dengan beberapa pasien sekaligus. Ada pasien lain di dalam ruangan, ribut sendiri. Jujur, bagaimana kami bisa merasa nyaman? Bagaimana kami bisa leluasa berdiskusi mengenai kondisi anak kami? Padahal salah satu alasan kami datang adalah ingin mendapatkan insight tambahan, ingin berdiskusi. Tapi akhirnya saya bahkan tidak tahu harus berharap apa lagi.
Belum selesai dengan kekecewaan itu, kami kemudian diarahkan untuk melakukan SPT atau skin prick test. Yang membuat saya semakin bingung, rasanya keputusan itu datang begitu saja. Kami belum benar-benar sempat memahami semuanya. Belum sempat merasa nyaman dengan suasana konsultasi. Tetapi tiba-tiba sudah diarahkan ke pemeriksaan dan kemudian kami ditodong kertas pembayaran. Kami saat itu masih linglung dengan keadaan sekitar. Pasien lain ada di ruangan. Suasana ribut. Dan saya merasa seperti belum sempat benar-benar mencerna apa yang sedang terjadi.
SPT itu juga tidak murah. Dan ternyata yang diperiksa hanya 15 alergen. Lalu hasilnya keluar sekitar 10 menit kemudian. Dan... Anak saya dinyatakan alergi kuning telur dan daging sapi. Hah?
Lalu bagaimana dengan hasil sebelumnya? Sebelumnya kami mendapatkan hasil bahwa anak saya alergi kedelai. Sekarang kok berbeda? Jadi yang mana yang harus kami percaya? Saya semakin bingung. Yang membuat saya semakin heran, dokter pengganti tersebut juga mengatakan bahwa alergi ini sebenarnya tidak perlu terlalu dihiraukan. Katanya, kalau memang benar-benar alergi, setelah mengonsumsi makanan tersebut seharusnya dalam waktu sekitar 30 menit akan muncul gejala seperti gatal-gatal, kembung, dan sebagainya.
Lalu saya bertanya, “Bisa saja alergi ini yang membuat berat badan anak saya stuck, kan?”
Jawabannya kurang lebih, hal itu belum tentu juga. Sementara dokter sibuk dengan HP-nya. Di situ saya benar-benar merasa... Sudahlah. Mending kita lanjut saja.
Akhirnya kami mengatakan bahwa kami ingin dirujuk ke gastro. Dokternya mengatakan boleh. Rujukan internal ke gastro.Akhirnya Setelah perjalanan yang begitu panjang, setelah dua kali datang ke rumah sakit, setelah antre berjam-jam, setelah segala kekacauan dan kebingungan itu... Akhirnya kami mendapatkan jalan menuju gastro. Dan mungkin memang di sanalah kami seharusnya mendapatkan jawaban berikutnya.
Entahlah.
Yang jelas, hari itu saya pulang bukan dengan perasaan lega. Saya pulang dengan kepala penuh pertanyaan. Tentang alergi. Tentang hasil pemeriksaan yang berbeda. Tentang berat badan anak saya yang masih stuck. Dan tentang apakah selama ini kami sedang mencari jawaban di tempat yang salah.
0 comments