Mencari Jawaban, Malah Pulang Membawa Pertanyaan Baru
Setelah kunjungan kami ke profesor dokter spesialis anak beberapa waktu lalu, seperti yang sudah pernah saya ceritakan, akhirnya kami mendapatkan rujukan lanjutan ke dokter spesialis pencernaan anak alias gastro. Sebenarnya, waktu itu Prof DSA memang sudah membicarakan kemungkinan kami perlu bertemu dokter gastro. Kami juga sempat sedikit berdiskusi mengenai alergi dan imunologi. Karena kami menggunakan BPJS, tentu saja jalannya harus dari rujukan ke rujukan. Tidak bisa begitu saja memilih dokter mana yang ingin kami datangi. Akhirnya saya mendaftarkan anak saya ke poli gastro di rumah sakit rujukan akhir.
Dan di sinilah drama dimulai.
Pada hari H, saat kami hendak check-in, ternyata pendaftaran kami gagal. Katanya, kami mendaftar ke poli yang tidak sesuai dengan surat rujukan. Saya cek lagi surat rujukannya. Benar.Ternyat a rujukannya memang tertulis ke dokter spesialis alergi dan imunologi, bukan gastro.
Lho?
Padahal dari konsultasi sebelumnya, kami sudah mendengar jelas pembicaraan mengenai gastro. Saya pun mendaftarkan sesuai dengan pemahaman saya dari konsultasi tersebut. Yang membuat saya semakin kesal adalah... Kalau memang pendaftarannya tidak sesuai rujukan, kenapa ketika saya melakukan registrasi sebelumnya bisa berhasil? Kenapa baru ketahuan ketika sudah datang dan hendak check-in? Kalau dari awal sistem bisa membaca bahwa poli yang saya pilih tidak sesuai dengan rujukan, seharusnya dari awal saja registrasinya ditolak. Bukan sudah daftar. Sudah datang jauh-jauh. Sudah antre check-in. Baru kemudian gagal.
Akhirnya saya pergi ke bagian informasi untuk membatalkan dan mencoba reschedule. Ternyata tidak bisa karena kuota sudah penuh. Ya Tuhan... Jadi kami datang ke rumah sakit, antre, menghabiskan waktu dan tenaga, lalu pulang tanpa bertemu dokter yang dituju. Kesal? Jelas.
Belum lagi ketika sampai di bagian informasi, petugasnya menurut saya cukup judes. Saya paham mungkin petugas juga lelah menghadapi banyak pasien. Tapi pasien juga tidak kalah lelah, lho. Kami sudah datang jauh-jauh. Sudah gagal check-in. Sudah bingung dengan sistemnya. Dan akhirnya saya malah diarahkan untuk melakukan registrasi online lagi, karena petugas tidak melayani registrasi non-online.
Ya Tuhan... Kami kan sudah ada di rumah sakit. Kenapa harus registrasi online lagi? Apalagi verifikasinya juga dari front office tersebut. Rasanya kesal yang satu belum selesai, sudah ditambah kesal yang lain. Dari pengalaman pertama ini saja, saya sudah mulai tidak sreg dengan rumah sakit rujukan akhir kami. Bukan hanya karena sistem BPJS yang menurut saya membingungkan, tetapi flow rumah sakitnya sendiri juga terasa tidak bagus. Ada beberapa anjungan pendaftaran. Tetapi keterangannya sangat kecil dan hanya berada di depan monitor. Sementara antreannya mengular. Dari jauh, saya tidak tahu mana yang untuk registrasi ulang, mana yang untuk check-in, mana yang untuk mengambil tiket ke front office. Baru ketika sudah sampai di depan monitor, oh... ternyata ini untuk registrasi ulang. Padahal saya mau check-in. Artinya? Harus antre lagi dari belakang. Kacau sekali flow-nya.
Kantin juga kecil sekali dan pilihannya sangat terbatas. Padahal jumlah pasien banyak. Tempat duduk untuk menunggu pun minim. Sudah tahu pasiennya sebanyak itu, tetapi tempat untuk menunggunya tidak sebanding. Tapi ya sudahlah. Kami akhirnya pulang. Dan saya pikir, mungkin lain kali akan lebih baik.
Hari berikutnya, kami kembali lagi ke rumah sakit. Kali ini hari Senin. Dan ternyata jauh lebih ramai dibandingkan kunjungan pertama kami yang kebetulan hari Sabtu. Ramainya bukan main. Rasanya seperti pasar. Setidaknya kali ini kami sudah tahu harus antre di sebelah mana. Jadi tidak ada lagi drama salah antre. Tapi ternyata antreannya... Mengular. Satu jam. Satu jam penuh hanya habis untuk proses check-in. Baru mulai saja, baterai tenaga saya rasanya sudah berkurang cukup banyak.
Setelah itu kami naik ke lantai atas untuk pemeriksaan awal oleh nurse seperti biasa: berat badan, tinggi badan, lingkar kepala anak, dan sebagainya. Dan lagi-lagi... Antreannya kacau. Berdesakan. Tidak nyaman. Saling serobot. Saya banyak melongo melihat ketidakteraturan itu. Dalam hati saya benar-benar bertanya, Kenapa rumah sakit besar yang menjadi rujukan akhir bisa seperti ini?
Saya bahkan hampir menangis ketika anak saya terdorong-dorong oleh ibu-ibu lain yang mungkin juga sudah tidak sabar menunggu. Saya tahu semua orang sama-sama lelah. Saya tahu semua orang juga membawa anak yang sakit. Tapi melihat anak sendiri berada di tengah kerumunan, terdorong ke sana-sini, rasanya hati saya tidak kuat.
Dan ternyata penderitaan kami belum selesai. Kami masih harus menunggu untuk bertemu dokter spesialis anak. Dua jam kami menunggu, tanpa nomor antrean yang jelas. Tidak ada layar yang menunjukkan sekarang antrean nomor berapa. Tidak ada transparansi. Kami bahkan tidak tahu apakah antrean kami sudah terlewat atau belum. Jadinya kami harus bolak-balik bertanya kepada nurse.
Dua jam menunggu tanpa kepastian. Sementara kursi tunggu sangat minim. Akhirnya kami ngemper, duduk di lantai. Bukan cuma kami. Banyak orang tua lain juga duduk di lantai bersama anak-anak mereka yang sedang sakit. Saya benar-benar merasa miris. Rumah sakitnya besar. Pasiennya banyak. Tapi orang tua dan anak-anak yang sedang sakit justru harus duduk di lantai karena tidak ada tempat duduk yang cukup.
Setelah dua jam, akhirnya nama kami dipanggil juga. Saya pikir, akhirnya... Mungkin semua rasa lelah ini akan terbayar. Ternyata tidak. Dokter spesialis alergi dan imunologi yang sejak awal kami tunggu-tunggu untuk berdiskusi ternyata tidak hadir. Dan digantikan oleh dokter lain, dokter yang bahkan kami tidak kenal. Yang lebih membuat saya kecewa, hal itu tidak disampaikan sejak awal. Kenapa tidak diberitahu saja bahwa dokternya tidak hadir? Kalau dari awal kami tahu, setidaknya kami punya pilihan. Mau lanjut konsultasi dengan dokter pengganti? Atau reschedule dan menunggu dokter yang memang ingin kami temui. Kami bisa menentukan sendiri.
Kami sudah menunggu dua jam, masuk ke ruangan, lalu ternyata dokter yang kami harapkan tidak ada. Dan konsultasinya pun dilakukan dengan beberapa pasien sekaligus. Ada pasien lain di dalam ruangan, ribut sendiri. Jujur, bagaimana kami bisa merasa nyaman? Bagaimana kami bisa leluasa berdiskusi mengenai kondisi anak kami? Padahal salah satu alasan kami datang adalah ingin mendapatkan insight tambahan, ingin berdiskusi. Tapi akhirnya saya bahkan tidak tahu harus berharap apa lagi.
Belum selesai dengan kekecewaan itu, kami kemudian diarahkan untuk melakukan SPT atau skin prick test. Yang membuat saya semakin bingung, rasanya keputusan itu datang begitu saja. Kami belum benar-benar sempat memahami semuanya. Belum sempat merasa nyaman dengan suasana konsultasi. Tetapi tiba-tiba sudah diarahkan ke pemeriksaan dan kemudian kami ditodong kertas pembayaran. Kami saat itu masih linglung dengan keadaan sekitar. Pasien lain ada di ruangan. Suasana ribut. Dan saya merasa seperti belum sempat benar-benar mencerna apa yang sedang terjadi.
SPT itu juga tidak murah. Dan ternyata yang diperiksa hanya 15 alergen. Lalu hasilnya keluar sekitar 10 menit kemudian. Dan... Anak saya dinyatakan alergi kuning telur dan daging sapi. Hah?
Lalu bagaimana dengan hasil sebelumnya? Sebelumnya kami mendapatkan hasil bahwa anak saya alergi kedelai. Sekarang kok berbeda? Jadi yang mana yang harus kami percaya? Saya semakin bingung. Yang membuat saya semakin heran, dokter pengganti tersebut juga mengatakan bahwa alergi ini sebenarnya tidak perlu terlalu dihiraukan. Katanya, kalau memang benar-benar alergi, setelah mengonsumsi makanan tersebut seharusnya dalam waktu sekitar 30 menit akan muncul gejala seperti gatal-gatal, kembung, dan sebagainya.
Lalu saya bertanya, “Bisa saja alergi ini yang membuat berat badan anak saya stuck, kan?”
Jawabannya kurang lebih, hal itu belum tentu juga. Sementara dokter sibuk dengan HP-nya. Di situ saya benar-benar merasa... Sudahlah. Mending kita lanjut saja.
Akhirnya kami mengatakan bahwa kami ingin dirujuk ke gastro. Dokternya mengatakan boleh. Rujukan internal ke gastro.Akhirnya Setelah perjalanan yang begitu panjang, setelah dua kali datang ke rumah sakit, setelah antre berjam-jam, setelah segala kekacauan dan kebingungan itu... Akhirnya kami mendapatkan jalan menuju gastro. Dan mungkin memang di sanalah kami seharusnya mendapatkan jawaban berikutnya.
Entahlah.
Yang jelas, hari itu saya pulang bukan dengan perasaan lega. Saya pulang dengan kepala penuh pertanyaan. Tentang alergi. Tentang hasil pemeriksaan yang berbeda. Tentang berat badan anak saya yang masih stuck. Dan tentang apakah selama ini kami sedang mencari jawaban di tempat yang salah.
Aku Lelah Sekali, dan Enggan untuk Bangun Tidur
Ada saat-saat ketika aku bertanya kepada diriku sendiri,
kalau aku berhenti bergerak, siapa yang akan mengurus anakku?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa malam ini rasanya begitu berat.
Sudah sejak kemarin anakku sakit. Batuknya terdengar keras dan dalam, sampai beberapa kali membuatnya muntah. Kemarin malam, salah satu muntahan itu terjadi tepat di dalam pelukanku. Aku memeluknya, membersihkannya, mengganti bajunya. Tanganku bergerak seperti biasa, seperti seorang ibu yang tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi di dalam kepala, rasanya aku hanya ingin berhenti.
Aku lelah. Sangat lelah.
Malam itu sebenarnya suamiku tidak sedang bekerja. Kami tidur di kamar yang berbeda. Dari kamar anakku terdengar suara tawa dan obrolannya bersama teman-teman bermain game.Aku mendengar tawa itu. Sementara dari tempatku, yang terdengar adalah batuk anak kami. Batuk yang begitu keras sampai membuatnya muntah.
Aku kecewa.
Bukan semata-mata karena suamiku bermain game. Bukan karena dia bersenang-senang. Tetapi karena dalam keadaan seperti itu, aku berharap dia bisa mendengar. Aku berharap dia akan datang melihat anaknya tanpa harus menunggu aku meminta. Mungkin aku hanya ingin merasa bahwa aku tidak sendirian.
Ketika anakku muntah dalam pelukanku, aku pergi ke kamar sebelah untuk mengambil baju ganti. Suamiku bertanya, “Ada apa?”. Aku menjawab, “Anak muntah.”. Dia bertanya lagi. Aku menjawab lagi, kali ini lebih keras karena ternyata jawabanku yang pertama tidak terdengar.
Lalu dia marah.
Katanya, kenapa aku tidak bisa bicara baik-baik. Saat itu aku merasa semakin sesak.Aku sudah menjawab. Aku hanya sedang lelah karena harus mengulang jawaban ketika anak kami baru saja muntah. Akhirnya aku berkata, mungkin dengan suara yang lebih tinggi,
“Aku sudah jawab baik-baik. Kamu yang nggak dengar. Sama seperti anakmu yang batuk-batuk sangat keras sampai muntah pun kamu nggak dengar.”
Setelah itu dia diam. Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya saat itu. Mungkin dia tersinggung. Mungkin dia marah. Mungkin dia akhirnya berpikir. Aku juga tidak tahu.Yang aku tahu, kalimat itu keluar karena aku sudah terlalu penuh. Karena sebenarnya aku tidak sedang marah tentang satu kejadian malam itu saja.
Aku sedang lelah dengan perasaan harus selalu menjadi orang yang pertama mendengar. Pertama kali menyadari anak sakit. Pertama kali bangun. Pertama kali bergerak. Pertama kali panik. Pertama kali mencari solusi. Dan entah mengapa, ketika aku mulai kehabisan tenaga, aku malah merasa harus menjelaskan lagi kenapa aku kehabisan tenaga.
Hari ini aku kemudian menyadari sesuatu yang membuatku semakin sedih.
Ketika siang aku bekerja, suamiku tidur. Ketika malam suamiku bekerja, aku masih bekerja, bukan pekerjaan kantorku, tetapi pekerjaan menjaga anak. Dan ketika akhirnya ada malam di mana suamiku tidak bekerja, anak kami sakit. Aku tetap berjaga. Lalu kapan aku istirahat? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Kapan?
Aku bahkan tidak tahu lagi jawabannya. Sejak kemarin aku sudah sangat lelah. Sampai akhirnya aku tertidur karena tubuhku memang sudah tidak sanggup lagi bertahan. Pagi harinya aku enggan bangun.
Aku tidak ingin melakukan apa-apa.
Aku hanya ingin tidur.
Aku ingin beristirahat.
Aku ingin untuk sekali saja tidak menjadi orang yang harus segera bergerak ketika sesuatu terjadi. Tetapi kemudian muncul pikiran lain. Kalau aku tidak bergerak, bagaimana dengan anakku? Dan mungkin inilah bagian paling melelahkan dari menjadi seorang ibu.
Bahkan ketika tubuh kita meminta berhenti, hati kita masih merasa tidak punya hak untuk berhenti. Anakku tetap harus makan. Tetap harus minum. Tetap harus dimandikan. Tetap harus dipantau. Tetap harus dipeluk ketika batuknya membuatnya takut. Tetap harus ada seseorang yang mendengarkan napasnya di malam hari. Dan orang itu hampir selalu aku.
Kadang aku bertanya-tanya, apa bedanya jika aku sendiri?
Bukankah sekarang pun rasanya seperti aku sendirian? Aku tahu pertanyaan itu mungkin tidak sepenuhnya adil. Aku tahu suamiku mungkin juga punya lelahnya sendiri. Aku tahu mungkin ada banyak hal yang tidak kulihat dari sisinya. Tetapi malam ini aku tidak sedang mencoba menjadi adil.
Aku hanya sedang mencoba jujur. Aku lelah. Aku lelah mengurus semuanya sendiri, padahal kami berdua. Aku lelah harus meminta sesuatu yang sebenarnya ingin sekali kuberikan tanpa diminta: kehadiran.
Aku tidak membutuhkan suami yang sempurna. Aku hanya ingin ketika anak kami sakit, dia juga ikut khawatir. Ketika anak kami batuk, dia juga menoleh. Ketika anak kami muntah, dia juga bergerak. Ketika aku sudah terlalu lelah, dia bisa berkata, “Sudah. Kamu istirahat. Aku yang jaga.”
Mungkin sesederhana itu.
Mungkin yang sebenarnya kucari bukan bantuan. Aku hanya ingin merasa bahwa kami benar-benar menjalani ini bersama.
Malam ini aku menulis semuanya bukan karena aku ingin menyimpan kemarahan. Aku menulis karena aku takut suatu hari nanti aku sendiri lupa. Lupa bagaimana rasanya menjadi aku di masa ini. Lupa berapa kali aku menahan kantuk. Lupa berapa kali aku bangun ketika anakku batuk. Lupa bagaimana rasanya memeluk tubuh kecil yang baru saja muntah sementara tubuhku sendiri sudah meminta untuk berbaring. Lupa bahwa pernah ada malam ketika aku begitu lelah sampai tidak ingin bangun dari tempat tidur, tetapi tetap bangun karena seorang anak kecil membutuhkanku.
Mungkin suatu hari nanti aku akan membaca diary ini kembali. Entah aku akan berada di mana. Entah kehidupan kami akan seperti apa. Entah aku masih akan merasa seperti malam ini atau sudah menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang sekarang memenuhi kepalaku. Tetapi setidaknya, tulisan ini akan menjadi saksi. Bahwa pernah ada seorang ibu yang sangat lelah.
Yang ingin sekali beristirahat, tetapi tetap bangun.
Yang ingin berhenti bergerak, tetapi tetap bergerak.
Yang merasa sendirian, tetapi tetap bertahan.
Dan kalau suatu hari nanti aku mempertanyakan apakah aku pernah benar-benar berjuang untuk keluargaku, aku ingin diary ini mengingatkanku bahwa aku pernah.
Aku pernah sangat lelah.
Aku pernah ingin berhenti.
Tetapi aku tetap bertahan.
Untuk anakku.
Dan mungkin, untuk diriku sendiri juga.
August: Finding Respite, Growing Roots
Somehow, this month felt particularly weighty, and I found myself longing for home more than usual. I wanted to see my parents, to be there for a while, and perhaps simply to feel like I could breathe a little easier. But, as you know, my husband had only just started his new job and had not yet been granted any leave. Then, as I looked through the calendar, I noticed that Indonesia’s Independence Day had created a long weekend. It felt almost wasteful to let the opportunity pass by. After some hesitation, I finally mustered the courage to ask my husband, “Would it be alright if I went there alone?”
To my surprise, he agreed, on one condition: I had to take the train. Initially, I was quite adamant about taking a travel car instead. It was cheaper, and honestly, I wanted to be economical. But everyone seemed to think otherwise. They encouraged me to take the train because my child would probably be much more comfortable there, especially considering the six-hour journey. So, eventually, I relented and bought the train tickets. The journey took around six hours, and the fare was considerably more expensive. One train seat could cost almost twice as much as a seat in a travel car. I had genuinely hoped to save some money by taking the cheaper option, but sometimes practicality has to take precedence over frugality. And so, I went.
I finally got to see my parents and spent around four days with them. It was only the second time I had travelled by train on my own, and this time, I had my little companion with me. The trip was far from perfect. Travelling alone with a child is certainly not what I would call effortless. But despite the little inconveniences and exhaustion along the way, the trip was genuinely enjoyable. More importantly, I came home without regrets.
Sometimes, perhaps, we do not need a perfect holiday. We simply need a little respite from our usual routine.
This month, I also began cultivating another little dream of mine: turning my home into a greener place.
I did quite a bit of research and eventually realized that my original idea that I would simply grow vegetables and fruit was somewhat misguided. It turns out that growing edible plants is not always as straightforward as planting a seed, watering it, and waiting for the harvest. Many plants rely on pollinators to reproduce, and those tiny visitors are naturally drawn to flowers, especially ones with vibrant colors and alluring scents. Suddenly, my failed harvest of long white jipang made much more sense. The plant had produced plenty of flowers, yet hardly any fruit. I had been wondering what went wrong. Apparently, I had overlooked one very important part of the equation: nobody had come along to do the pollinating. Well, lesson learned.
So, I decided to broaden my little garden. I bought several vegetable seeds, and, naturally, quite a few flower seeds as well. Perhaps I need to invite more pollinators into my garden before I can expect my vegetables to thrive. Now I just hope I don't actually have what my mother calls “hot hands”. According to her, my hands are somehow too hot for plants, which is why everything I plant eventually gives up and dies, wkwkwk. I suppose we'll find out.
Another thing that marked this month was the beginning of a new chapter for this blog: I decided to make it age-restricted. Not because there is anything obscene or pornographic here. There isn't. What I write about is simply more adult in nature, the realities of married life, the weight of responsibility, depression, mental struggles, and all the less glamorous parts of growing older and building a family.
I suppose I became increasingly conscious of the fact that these are not exactly the kind of things I would want younger readers to stumble upon too early in life. Not because I believe they should be shielded from reality forever, but because life can already be heavy enough when you are older and have no particular privilege to cushion the fall. I would rather not have my unfiltered accounts of adulthood inadvertently become someone else's emotional burden while they are still too young to make sense of them. So, I decided that people who want to read this blog should at least be signed in with a Google account. No anonymous, incognito-window reading. Of course, I know this may affect the number of people who visit my blog. Perhaps the readership will decline. Honestly, I'm quite alright with that. In fact, I might even prefer it.
This blog contains pieces of my actual life. My disappointments, my exhaustion, my marriage, my struggles, and sometimes the things I would probably never say out loud to people around me. The thought of one of these posts suddenly going viral and being read by thousands of strangers is actually rather terrifying. So, perhaps fewer readers are not necessarily a bad thing.
I don't think I have ever wanted this blog to become famous. I just want it to remain a quiet little corner of the internet where I can leave pieces of my life behind as honestly as I can, and without having to pretend that everything is always fine.
And if only a handful of people ever read it, well... Maybe that's exactly how it should be.
Kembali Mencari Jawaban, Kali Ini dari Sudut Pandang Profesor Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial
Kembali berkutat dengan permasalahan berat badan yang stuck.
Hari ini adalah kali kedua kami bertemu dengan dokter ini. Entah kenapa, kali ini aku merasa beliau tidak seramah sebelumnya. Sebetulnya, sejak awal pun aku sudah merasa bahwa dokter ini tidak terlalu ramah. Hanya saja, kata suamiku, dokter ini cukup ramah. Jadi pikirku, mungkin ekspektasiku saja yang terlalu tinggi.
Bagaimana tidak? Di Threads, cukup banyak orang yang merekomendasikan beliau karena keramahan dan ketelatenannya. Katanya, beliau juga bukan tipe dokter yang mudah nge-judge ketika berhadapan dengan anak yang berat badannya seret. Mungkin karena membaca banyak cerita itu, tanpa sadar aku datang dengan ekspektasi tertentu.
Pertemuan pertama bulan lalu sebenarnya memberikan pengalaman yang cukup berbeda.
Anakku menjalani tes Denver, baik secara teori maupun praktik. Alhamdulillah, hasilnya secara keseluruhan baik dan sesuai dengan usianya. Hanya ada sedikit PR pada bagian motorik halus. Ketika menulis, posisi jemarinya masih belum benar. Tidak ada sesuatu yang terlalu mengkhawatirkan, tetapi setidaknya kami tahu ada bagian yang masih perlu dilatih. Dokter juga memberikan vitamin racikan untuk membantu memancing berat badannya.
Kami kemudian melihat kembali perjalanan kurva pertumbuhannya. Bagaimana naik turunnya selama ini, bukan hanya melihat angka yang ada hari itu. Menurut beliau, kurvanya memang seperti itu. Tetap naik, hanya saja selalu berada di dekat garis merah. Dan mungkin yang paling membekas dari pertemuan itu justru bukan obat ataupun vitamin yang diberikan.
Dokter yang kutemui kali ini bukan orang baru dalam dunia tumbuh kembang anak. Beliau sudah lama berkecimpung di bidang Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, bidang yang memang banyak berhadapan dengan pertanyaan tentang bagaimana seorang anak tumbuh dan berkembang secara utuh, bukan sekadar apakah angka di timbangannya sesuai dengan tabel. Perjalanan akademiknya pun panjang. Dari seorang dokter anak, kemudian menjadi konsultan tumbuh kembang, hingga akhirnya dikukuhkan sebagai guru besar. Bertahun-tahun hidupnya dihabiskan untuk mempelajari kesehatan dan perkembangan anak.
Mungkin karena itu pula, cara pandangnya terasa sedikit berbeda bagiku. Beliau tidak hanya melihat anak dari satu angka di timbangan. Ia melihat perjalanan pertumbuhannya dari waktu ke waktu, perkembangannya, kemampuan motorik dan bahasanya, serta hal-hal lain yang mungkin selama ini luput dari perhatianku karena aku terlalu terpaku pada berat badan. Dan setelah mendengar bahwa kami sudah membawa anak ke sana kemari, melakukan berbagai pemeriksaan, dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya membuat berat badannya sulit mengejar anak-anak seusianya, beliau mengatakan sesuatu yang belum pernah benar-benar dikatakan dokter lain kepadaku sebelumnya.
Ada kemungkinan anakku memang memiliki tipe tubuh yang cenderung kurus karena faktor keturunan. Well... Baru kali itu aku mendengar kemungkinan tersebut langsung dari seorang dokter. Selama ini, rasanya kami terus mencari sesuatu yang salah. Kalau anak kurus, pasti ada penyebabnya. Kalau berat badan tidak naik sesuai harapan, pasti ada yang harus dicari. Kalau berat badan turun ketika sesuatu dihentikan, berarti mungkin ada masalah lain. Kami terus berpindah dari satu dokter ke dokter lain, melakukan pemeriksaan ini dan itu, mencoba berbagai macam cara, sambil terus bertanya-tanya: sebenarnya apa yang terjadi dengan anak kami?
Karena itu, ketika dokter ini mengatakan bahwa mungkin saja tubuh anakku memang cenderung kurus karena keturunan, entah kenapa rasanya seperti mendapat angin segar. Bukan berarti aku langsung percaya bahwa semuanya baik-baik saja. Bukan juga berarti aku ingin berhenti mencari tahu. Tetapi untuk pertama kalinya, muncul sebuah kemungkinan bahwa mungkin tubuh anakku memang tidak harus terlihat seperti anak-anak lain agar bisa disebut sehat.
Dan sebagai seorang ibu yang selama ini rasanya terus berlarian ke sana kemari mencari pertolongan untuk masalah berat badan anak, kemungkinan itu terasa melegakan. Karena saat aku kecil, aku juga sangat kurus. Dalam hati kecilku, kemungkinan inilah yang membuat hatiku tetap kuat menerima keadaan. Meskipun selama ini belum ada dokter yang mengonfirmasi hal ini. Namun, boleh kan aku memiliki keyakinan sendiri untuk membuatku tetap terjaga?
Pertemuan kedua hari ini ternyata tidak semenarik pertemuan sebelumnya.
Disamping karena dokternya bersikap lebih tidak ramah dari sebelumnya, dan pertemuan kali ini terasa diburu-buru. Jadi semakin membuatku merasa tidak nyaman, jujur saja. Namun, apalah kami hanya orang tua yang minim pengetahuan tentang kesehatan, yang memang membutuhkan bantuan dari seorang ahli dibidangnha. Inti pemeriksaan, menurut dokter, berat badannya sebenarnya naik dengan baik. Tetapi ketika aku kembali bercerita bahwa berat badannya bisa ambyar ketika kami melewatkan Lactob, muncul kemungkinan lain. Bisa jadi memang ada alergi tertentu, atau mungkin ada masalah pada sistem pencernaannya. Akhirnya, kami kembali mendapat rujukan. Kali ini ke dokter spesialis yang menangani masalah pencernaan anak.
Gastroenterologi.
Dan aku hanya bisa menghela napas. Yah... Kembali doctor shopping. Kembali bertemu dokter lain. Kembali membawa cerita yang sama. Kembali berharap kali ini kami menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan semuanya.
Tapi mungkin memang begini perjalanan menjadi orang tua. Ada kalanya kita harus terus mencari karena memang ada sesuatu yang perlu ditemukan. Ada kalanya kita harus melakukan berbagai pemeriksaan karena mungkin ada kondisi tertentu yang selama ini belum terdeteksi. Dan aku berharap, kalau memang ada sesuatu yang perlu disembuhkan, semoga segera ditemukan dan bisa ditangani dengan baik. Namun kalau ternyata setelah semua perjalanan panjang ini hasilnya menunjukkan bahwa anakku baik-baik saja, bahwa tidak ada penyakit atau gangguan tertentu yang membuatnya sulit bertumbuh, aku juga berharap kami bisa belajar berdamai dengan tubuhnya.
Semoga semua ikhtiar ini pada akhirnya membawa anakku menjadi semakin sehat. Bukan semata-mata agar angka di timbangan terlihat bagus. Tetapi agar ia bisa tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan tubuhnya sendiri. Mungkin perjalanan mencari jawabannya masih panjang. Dan untuk sekarang, aku hanya ingin terus berjalan sambil belajar membedakan mana yang memang perlu diperjuangkan, dan mana yang mungkin perlu kami terima.
Barangkali, pada akhirnya, tugasku bukan membuat tubuhnya menjadi seperti anak-anak lain. Melainkan memastikan ia tumbuh sehat dengan tubuh yang memang menjadi miliknya.


