Kembali Mencari Jawaban, Kali Ini dari Sudut Pandang Profesor Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial

by - August 25, 2026

 Kembali berkutat dengan permasalahan berat badan yang stuck.

Hari ini adalah kali kedua kami bertemu dengan dokter ini. Entah kenapa, kali ini aku merasa beliau tidak seramah sebelumnya. Sebetulnya, sejak awal pun aku sudah merasa bahwa dokter ini tidak terlalu ramah. Hanya saja, kata suamiku, dokter ini cukup ramah. Jadi pikirku, mungkin ekspektasiku saja yang terlalu tinggi.

Bagaimana tidak? Di Threads, cukup banyak orang yang merekomendasikan beliau karena keramahan dan ketelatenannya. Katanya, beliau juga bukan tipe dokter yang mudah nge-judge ketika berhadapan dengan anak yang berat badannya seret. Mungkin karena membaca banyak cerita itu, tanpa sadar aku datang dengan ekspektasi tertentu.

Pertemuan pertama bulan lalu sebenarnya memberikan pengalaman yang cukup berbeda.

Anakku menjalani tes Denver, baik secara teori maupun praktik. Alhamdulillah, hasilnya secara keseluruhan baik dan sesuai dengan usianya. Hanya ada sedikit PR pada bagian motorik halus. Ketika menulis, posisi jemarinya masih belum benar. Tidak ada sesuatu yang terlalu mengkhawatirkan, tetapi setidaknya kami tahu ada bagian yang masih perlu dilatih. Dokter juga memberikan vitamin racikan untuk membantu memancing berat badannya.

Kami kemudian melihat kembali perjalanan kurva pertumbuhannya. Bagaimana naik turunnya selama ini, bukan hanya melihat angka yang ada hari itu. Menurut beliau, kurvanya memang seperti itu. Tetap naik, hanya saja selalu berada di dekat garis merah. Dan mungkin yang paling membekas dari pertemuan itu justru bukan obat ataupun vitamin yang diberikan.

Dokter yang kutemui kali ini bukan orang baru dalam dunia tumbuh kembang anak. Beliau sudah lama berkecimpung di bidang Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, bidang yang memang banyak berhadapan dengan pertanyaan tentang bagaimana seorang anak tumbuh dan berkembang secara utuh, bukan sekadar apakah angka di timbangannya sesuai dengan tabel. Perjalanan akademiknya pun panjang. Dari seorang dokter anak, kemudian menjadi konsultan tumbuh kembang, hingga akhirnya dikukuhkan sebagai guru besar. Bertahun-tahun hidupnya dihabiskan untuk mempelajari kesehatan dan perkembangan anak.

Mungkin karena itu pula, cara pandangnya terasa sedikit berbeda bagiku. Beliau tidak hanya melihat anak dari satu angka di timbangan. Ia melihat perjalanan pertumbuhannya dari waktu ke waktu, perkembangannya, kemampuan motorik dan bahasanya, serta hal-hal lain yang mungkin selama ini luput dari perhatianku karena aku terlalu terpaku pada berat badan. Dan setelah mendengar bahwa kami sudah membawa anak ke sana kemari, melakukan berbagai pemeriksaan, dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya membuat berat badannya sulit mengejar anak-anak seusianya, beliau mengatakan sesuatu yang belum pernah benar-benar dikatakan dokter lain kepadaku sebelumnya.

Ada kemungkinan anakku memang memiliki tipe tubuh yang cenderung kurus karena faktor keturunan. Well... Baru kali itu aku mendengar kemungkinan tersebut langsung dari seorang dokter. Selama ini, rasanya kami terus mencari sesuatu yang salah. Kalau anak kurus, pasti ada penyebabnya. Kalau berat badan tidak naik sesuai harapan, pasti ada yang harus dicari. Kalau berat badan turun ketika sesuatu dihentikan, berarti mungkin ada masalah lain. Kami terus berpindah dari satu dokter ke dokter lain, melakukan pemeriksaan ini dan itu, mencoba berbagai macam cara, sambil terus bertanya-tanya: sebenarnya apa yang terjadi dengan anak kami?

Karena itu, ketika dokter ini mengatakan bahwa mungkin saja tubuh anakku memang cenderung kurus karena keturunan, entah kenapa rasanya seperti mendapat angin segar. Bukan berarti aku langsung percaya bahwa semuanya baik-baik saja. Bukan juga berarti aku ingin berhenti mencari tahu. Tetapi untuk pertama kalinya, muncul sebuah kemungkinan bahwa mungkin tubuh anakku memang tidak harus terlihat seperti anak-anak lain agar bisa disebut sehat.

Dan sebagai seorang ibu yang selama ini rasanya terus berlarian ke sana kemari mencari pertolongan untuk masalah berat badan anak, kemungkinan itu terasa melegakan. Karena saat aku kecil, aku juga sangat kurus. Dalam hati kecilku, kemungkinan inilah yang membuat hatiku tetap kuat menerima keadaan. Meskipun selama ini belum ada dokter yang mengonfirmasi hal ini. Namun, boleh kan aku memiliki keyakinan sendiri untuk membuatku tetap terjaga?

Pertemuan kedua hari ini ternyata tidak semenarik pertemuan sebelumnya.

Disamping karena dokternya bersikap lebih tidak ramah dari sebelumnya, dan pertemuan kali ini terasa diburu-buru. Jadi semakin membuatku merasa tidak nyaman, jujur saja. Namun, apalah kami hanya orang tua yang minim pengetahuan tentang kesehatan, yang memang membutuhkan bantuan dari seorang ahli dibidangnha. Inti pemeriksaan, menurut dokter, berat badannya sebenarnya naik dengan baik. Tetapi ketika aku kembali bercerita bahwa berat badannya bisa ambyar ketika kami melewatkan Lactob, muncul kemungkinan lain. Bisa jadi memang ada alergi tertentu, atau mungkin ada masalah pada sistem pencernaannya. Akhirnya, kami kembali mendapat rujukan. Kali ini ke dokter spesialis yang menangani masalah pencernaan anak.

Gastroenterologi.

Dan aku hanya bisa menghela napas. Yah... Kembali doctor shopping. Kembali bertemu dokter lain. Kembali membawa cerita yang sama. Kembali berharap kali ini kami menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan semuanya.

Tapi mungkin memang begini perjalanan menjadi orang tua. Ada kalanya kita harus terus mencari karena memang ada sesuatu yang perlu ditemukan. Ada kalanya kita harus melakukan berbagai pemeriksaan karena mungkin ada kondisi tertentu yang selama ini belum terdeteksi. Dan aku berharap, kalau memang ada sesuatu yang perlu disembuhkan, semoga segera ditemukan dan bisa ditangani dengan baik. Namun kalau ternyata setelah semua perjalanan panjang ini hasilnya menunjukkan bahwa anakku baik-baik saja, bahwa tidak ada penyakit atau gangguan tertentu yang membuatnya sulit bertumbuh, aku juga berharap kami bisa belajar berdamai dengan tubuhnya.

Semoga semua ikhtiar ini pada akhirnya membawa anakku menjadi semakin sehat. Bukan semata-mata agar angka di timbangan terlihat bagus. Tetapi agar ia bisa tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan tubuhnya sendiri. Mungkin perjalanan mencari jawabannya masih panjang. Dan untuk sekarang, aku hanya ingin terus berjalan sambil belajar membedakan mana yang memang perlu diperjuangkan, dan mana yang mungkin perlu kami terima.

Barangkali, pada akhirnya, tugasku bukan membuat tubuhnya menjadi seperti anak-anak lain. Melainkan memastikan ia tumbuh sehat dengan tubuh yang memang menjadi miliknya.

You May Also Like

0 comments