Aku Kira Kamulah Masa Depanku

by - December 22, 2011

Awal pertama mengenalmu lewat media sosial Facebook. Saat itu aku masih kelas 3 SMP, sedangkan dirimu sudah kelas 1 SMA. Aku bersekolah di SMP favorit kabupaten, dan kamu di SMA favorit karesidenan. Kamu juga alumni dari SMP-ku. Entah bagaimana awalnya, kita menjadi semakin dekat. Dari yang awalnya hanya saling berkomentar di Facebook, kemudian berlanjut ke DM, hingga akhirnya saling bertukar nomor telepon, lebih private lewat sms dan telepon. Pernah suatu ketika kamu dan beberapa alumni lain datang ke SMP untuk berkunjung. Kamu katanya sengaja mencariku, namun saat itu aku sedang pergi ke toilet. Alhasil, kita tidak sempat bertemu.

Saat lulus SMP, aku sempat mencoba mendaftar ke SMA-mu. Namun aku gagal. Ternyata persaingan di SMA favorit karesidenan memang seketat itu. Akhirnya aku bersekolah di SMA favorit kabupaten saja. Tapi jujur, aku tetap bersyukur karena bisa masuk ke sana dan kembali bertemu dengan banyak teman SMP. Betul saja, dari SMP favorit kabupaten tentu banyak juga yang masuk SMA favorit kabupaten. Jadi bisa dibilang mayoritas teman SMA-ku adalah teman SMP-ku dulu. Rasanya seperti tidak benar-benar pindah lingkungan.

Long story short, karena kita semakin dekat dan akrab, kamu akhirnya mengajakku berpacaran. Kamu memang tidak tampan, tidak stylish juga. Kalau dipikir sekarang, gayamu waktu itu malah seperti om-om. Namun entah bagaimana, aku merasa bersamamu bisa membuatku memiliki masa depan yang cerah. Entah firasat apa itu. Mungkin karena aku merasa kamu benar-benar akan menjadi orang yang sukses suatu saat nanti. Kamu terlihat punya tujuan, punya ambisi, dan tahu ingin menjadi apa. Akhirnya aku pun menerimamu sebagai pacarku. Padahal kalau dipikir lagi sekarang, saat itu sebenarnya cukup banyak laki-laki yang mendekatiku. Bahkan aku sempat berada di level percaya diri yang cukup tinggi, merasa disukai oleh banyak lelaki sepantaranku. Haha.

Yah, akhirnya kami benar-benar berpacaran. Pacaran level ABG pada umumnya. Sebelumnya aku memang pernah punya pacar, tapi hanya sebatas pacaran ala anak-anak yang sekadar bertukar pesan saja. Sedangkan denganmu, rasanya berbeda. Aku merasa menjadi lebih “besar”. Bukan dewasa, tapi seperti naik satu tingkat. Tidak hanya bertukar pesan, kami juga sempat berkencan beberapa kali. Mulai dari pulang sekolah pergi ke warnet, jalan-jalan ke mall, hingga buka puasa bersama. Tak hanya sampai di situ, denganmulah pertama kali aku merasakan hubungan secara fisik. Bahagianya bisa bergandengan tangan denganmu saat itu. Saat itu aku benar-benar merasa kamulah jodohku. Kamulah masa depanku. Bahkan untuk pertama kalinya aku berani mengenalkan pacarku kepada kedua orang tuaku. Dan secara umum, orang tuaku tidak pernah benar-benar melarangku berpacaran.

Hubungan kami berlangsung cukup lama bagiku. Lebih dari setahun, hingga aku masuk kelas 2 SMA dan kamu kelas 3 SMA. Di sinilah mulai muncul banyak pertikaian. Kamu semakin sibuk mempersiapkan pendidikanmu selanjutnya. Aku sebenarnya paham betul. Kamu punya cita-cita yang tinggi. Daya saingmu kuat, kamu pintar, dan masa depanmu terlihat sangat cerah. Namun hubungan kita mulai dipenuhi putus-nyambung. Awalnya karena aku lelah dengan kesibukanmu. Tapi setiap kali putus, kamu selalu memohon untuk kembali. Dan aku selalu luluh. Entah sudah berapa kali itu terjadi.

Hingga pada suatu titik, mungkin kamu benar-benar lelah. Kali ini kamu tidak kembali lagi.

Awalnya aku merasa biasa saja. Aku berpikir, mungkin seperti sebelumnya, kamu akan datang lagi. Menghubungiku lagi. Memintaku kembali lagi. Tapi kali ini tidak.

Hari demi hari berlalu, dan kamu benar-benar tidak kembali.

Di situlah perlahan aku mulai merasa kosong. Ada ruang di hatiku yang tiba-tiba terasa sangat sepi. Kenangan-kenangan kecil yang dulu terasa biasa saja, tiba-tiba menjadi begitu menyakitkan untuk diingat. Aku mulai menangis. Sering sekali.

Kadang tanpa alasan yang jelas. Kadang hanya karena tiba-tiba teringat sesuatu. Mendengar lagu sedih sedikit saja bisa membuatku menangis. Melihat tempat yang pernah kita datangi bersama membuat dadaku sesak. Bahkan hanya sekadar mengingat percakapan-percakapan lama kita pun bisa membuat air mataku jatuh lagi.

Aku benar-benar merasa hancur.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan patah hati yang begitu dalam. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat besar dalam hidupku. Seperti kehilangan masa depan yang dulu pernah kubayangkan bersamamu. Hari-hari terasa berat. Aku menjadi murung. Aku menjadi diam. Aku merasa seperti sedang berkabung atas sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar kumiliki.

Sahabat-sahabatku berusaha sekuat tenaga menghiburku. Mereka menemaniku, mengajakku tertawa, mencoba mengalihkan pikiranku. Tapi entah bagaimana, rasa sedih itu tetap tinggal.

Aku benar-benar patah hati.

Hancur.

Dan saat ini, aku merasa dunia seakan runtuh hanya karena satu orang pergi dari hidupku.

- UAQ - 

You May Also Like

0 comments