Ada yang Patut Disyukuri Saat Lelah
Akhir-akhir ini aku merasa overwhelmed dengan sesuatu yang selalu aku kerjakan terus-menerus, terutama pekerjaan rumah. Mungkin bosan ya, melakukan hal repetitif yang sama setiap harinya. Aku mencuci pakaian, mencuci piring, merapikan pakaian, membereskan barang-barang, dan melakukan berbagai pekerjaan rumah lainnya. Rasanya tidak ada satu pun pekerjaan rumah yang benar-benar selesai. Ketika satu pekerjaan selesai, selalu ada pekerjaan lain yang menunggu untuk dikerjakan.
Aku bisa saja baru selesai membereskan rumah, tetapi beberapa jam kemudian sudah ada lagi yang harus dirapikan. Pakaian kembali menumpuk, piring kembali kotor, dan barang-barang kembali berserakan. Rasanya seperti tidak ada titik akhir. Sampai suatu hari, ketika sedang scroll-scroll Instagram, aku menemukan sebuah post yang menurutku benar-benar menyadarkan diriku. Kurang lebih begini ..
Kamu mengeluh merasa lelah merapikan rumahmu, setidaknya kamu masih punya rumah untuk dikeluhkan.
Kamu mengeluh harus bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan untuk orang lain, setidaknya kamu masih punya orang terkasih untuk kamu keluhkan itu.
Kamu mengeluh pekerjaan kantormu tak kunjung usai, setidaknya kamu memiliki pekerjaan untuk kamu keluhkan.
Awalnya aku hanya membaca. Tetapi semakin kupikirkan, semakin aku merasa bahwa ada sesuatu yang menampar pikiranku. Seharusnya aku merasa bersyukur karena aku masih memiliki hal-hal tersebut. Karena, sebenarnya, kehidupan yang sedang membuatku lelah hari ini adalah kehidupan yang dulu pernah aku inginkan.
Aku punya rumah yang harus dirawat. Aku punya pakaian yang harus dicuci. Aku punya piring yang harus dibersihkan. Aku punya barang-barang yang harus dibereskan. Aku punya keluarga yang membutuhkan perhatian dan tenaga dariku. Lalu sekarang, ketika aku akhirnya memiliki semua itu, kenapa aku malah mengeluh?
Pertanyaan itu kemudian membuatku merasa bersalah. Kalau aku tidak mau mengeluhkan kondisi ini, berarti seharusnya aku tidak memiliki kondisi yang membuatku mengeluh. Misalnya, ketika aku mengeluhkan betapa capeknya membereskan barang-barang yang menumpuk, berarti kalau aku ingin tidak lagi capek membereskan barang-barang yang menumpuk, aku harus mengurangi barang-barang tersebut. Sederhana, tetapi ternyata pemikiran itu membawaku ke hal lain.
Mungkin ada dua hal yang perlu aku lakukan. Yang pertama, aku perlu belajar lebih banyak bersyukur atas apa yang aku miliki sekarang. Banyak hal yang hari ini membuatku lelah sebenarnya adalah hal-hal yang dulu pernah aku inginkan. Yang kedua, aku perlu belajar untuk tidak memiliki barang secara berlebihan. Bukan berarti memiliki banyak barang itu salah. Namun, setiap barang yang kita miliki juga membutuhkan tempat, perhatian, waktu, dan tenaga untuk merawatnya. Karena itu, mungkin aku memang perlu kembali melakukan decluttering.
Sebenarnya, aku sudah cukup sering melakukan decluttering. Aku tidak suka memiliki terlalu banyak pakaian. Aku cukup rajin mengeluarkan pakaian yang sudah tidak lagi ingin kupakai. Kalau ada baju yang masih bagus dan masih layak digunakan, tetapi menurutku sudah tidak lagi look good on me, biasanya aku akan mendonasikannya ke yayasan yang memang biasa menerima pakaian-pakaian tersebut. Bahkan sekarang pun aku masih dalam proses decluttering. Ada beberapa pakaian yang masih bagus dan masih layak pakai yang sedang kupisahkan untuk kemudian kusumbangkan.
Namun, yang membuatku heran adalah lemari itu seperti tidak pernah benar-benar kosong. Aku sudah mengeluarkan pakaian. Aku sudah mendonasikan pakaian. Aku sudah berusaha untuk tidak membeli pakaian baru secara berlebihan. Bahkan sekarang aku merasa sudah jarang membeli baju. Tetapi kenapa lemari ini tetap saja penuh? Kenapa barang-barang di dalamnya seperti terus bertambah dan menumpuk? Mungkin masalahnya bukan hanya tentang pakaian. Jangan-jangan kondisi lemari ini juga merupakan gambaran dari isi kepalaku.
Lemari yang terus penuh. Barang-barang yang terus menumpuk. Hal-hal yang sudah dikeluarkan, tetapi kemudian ada hal lain yang masuk menggantikannya. Bukankah pikiranku juga seperti itu? Ada banyak hal yang masuk. Ada banyak hal yang kupikirkan. Ada banyak hal yang harus kuingat. Ada banyak hal yang belum selesai. Bahkan ketika satu masalah sudah selesai, selalu ada hal lain yang muncul dan mengambil tempat di kepala. Jadi mungkin selama ini aku terlalu fokus merapikan apa yang terlihat.
Aku merapikan rumah. Aku merapikan lemari. Aku mengurangi barang-barang yang sudah tidak diperlukan. Tetapi bagaimana dengan isi kepalaku? Kalau lemari bisa dibersihkan dengan mengeluarkan barang-barang yang sudah tidak diperlukan, bagaimana caranya membersihkan kepala? Mungkin aku tidak akan menemukan jawabannya sekaligus. Untuk sekarang, aku bisa mulai dari hal-hal yang paling sederhana.
Aku akan menyelesaikan proses decluttering yang sedang berjalan. Aku akan mengeluarkan barang-barang yang memang sudah tidak lagi kubutuhkan dan mendonasikan barang-barang yang masih layak digunakan. Aku juga akan lebih berhati-hati sebelum membawa barang baru masuk ke rumah.
Di saat yang sama, aku ingin belajar untuk tidak langsung menganggap rasa lelah sebagai sesuatu yang harus disalahkan. Aku boleh lelah dengan pekerjaan rumah, tetapi aku juga bisa mengingat bahwa pekerjaan-pekerjaan itu ada karena ada kehidupan yang sedang kujalani. Aku ingin lebih sering bersyukur tanpa memaksa diriku untuk selalu merasa bersyukur.
Dan mungkin, untuk membersihkan isi kepala, aku bisa mulai dengan hal yang sama seperti ketika membersihkan lemari: melihat satu per satu, menentukan mana yang masih perlu disimpan, mana yang sudah bisa dilepaskan, dan tidak memasukkan terlalu banyak hal baru ke dalamnya.
Mungkin rumah yang lebih rapi tidak akan menyelesaikan semua masalah di kepalaku. Tetapi setidaknya, aku bisa mulai menciptakan sedikit lebih banyak ruang di rumah, dan juga di dalam pikiranku.

0 comments